Oleh: muhammadyusufansori | Juli 14, 2010

Bertani sebagai Budaya Masyarakat

Budaya bisa diartikan sebagai  cipta, rasa dan karsa manusia sebagaimana di sampaikan Prof. Koentjoroningrat dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi. Bertani sebagai salah satu budaya manusia lahir sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensi manusia di muka bumi. Dengan bertani, manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemenuhan kebutuhan hidup ini berkembang menjadi model perekonomian yang khas jika ditinjau dari kacamata masa kini.

Bertani (dalam arti luas) menjadi semacam identitas suatu bangsa. Bangsa Mongol yang gemar beternak kuda menjadikan mereka terkenal sebagai bangsa pengembara. Orang kulit putih dari Eropa gemar sekali beternak sapi dan domba sehingga dimanapun ada tanah luas mereka jadikan area pengembalaan ternak. Hal ini bisa kita lihat ketika mereka menjejakan kaki di Australia dan New Zealand maka serta merta mereka menjadikan benua itu sebagai pusat pemasok daging dunia. Kemudian, sadarkah kita bahwa bangsa kulit putih pun telah mengubah budaya beternak domba orang sunda menjadi peternak sapi perah dimana sapinya didatangkan langsung dari Eropa.

Ketika suatu bangsa menganggap bertani (termasuk beternak dan memelihara ikan) sebagai budaya mereka maka tidak sedikit yang senantiasa mempertahankannya. Identitas bangsa memang tidak boleh luntur sebagaimana pesan generasi terdahulu. Dari budaya itu melahirkan kekhasan gaya hidup yang masuk ke dalam berbagai aspek. Kata ‘cowboy’ senantiasa identik dengan Amerika karena banyak orang disana bangga dengan gaya pengembala sapi tersebut. Bahkan tidak hanya orang yang berprofesi seabagi peternak saja yang terbiasa berpakaian seperti cowboy _dengan topi laken, kemeja kotak-kotak dan celana jeans_ tetapi banyak lapisan masyarakat dengan berbagai profesi.

Di Hongkong, kebiasaan mengonsumsi ikan menjadi identitas masyarakat disana. Bahkan kelas sosial bisa ditentukan dengan jenis ikan yang dikonsumsinya. Kebiasaan masyarakat Hongkong memakan ikan ini mendorong banyak petani tambak dan nelayan untuk menangkap ikan dalam jumlah banyak

Di Jawa Barat ada tradisi domba tangkas yakni seni ketangkasan domba Garut. Dalam pagelaran tersebut, tidak hanya digelar ketangkasan domba tetapi juga disertai dengan kesenian tradisional Sunda seperti ngibing dan pencak silat. Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun meskipun tidak sepopuler dulu.

Di pedalaman Sumatera dan Kalimantan ada tradisi membuka lahan untuk pertanian di tengah hutan. Meskpiun berbagai upaya sudah dilakukan untuk menghentikan kebiasaan membakar hutan tetapi masyarakat tidak kunjung berhenti melakukan kebiasaan itu. Tradisi yang sudah mengakar menjadikan mereka sebagai petani nomaden yang memanfaatkan hutan dengan kesuburan tanahnya.

Sayangnya, kebiasaan masyarakat bercocok tanam dan memeliharan hewan ternak ini tidak dijadikan prioritas utama dan ciri pembangunan masyarakat. Saya pikir, tradisilah yang bisa menjadi motifasi masyarakat untuk mengembangkan usaha pertanian. Jika Eropa berhasil mengembangkan tradisi bertaninya menjadi lebih maju maka seharusnya kita pun berusaha ke arah sana. Masyarakat kita mudah tergiur oleh kemajuan bangsa lain sehingga lambat laun meninggalkan tradisi bangsanya sendiri.

Ketika banyak masyarakat di dunia mulai menyadari arti penting dunia pertanian untuk menjaga stabilitas keamanan pangan, maka selayaknya kita yang memiliki wilayah luas dan subur menjadi bagian terdepan untuk hal itu. Rendahnya teknologi dan kurangnya modal tidak harus menjadi hambatan dalam usaha mengembangkan pertanian sebagai entitas budaya bangsa ini. Justru, kesadaran akan kesinambungan hidup manusia menjadi motifasi utama untuk mengembangkan dunia pertanian.

Sejak dulu, nenek moyang kita sudah membuat seperangkat aturan adat untuk menjaga kelestarian alam demi keberlangsungan hidup manusia. Adat istiadat ini terlihat dari cara mereka mengatur pola tanam dan penggarapan lahan supaya tidak merusak alam di sekitarnya. Saat ini, hal yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak diantara kita tidak menyadari semua itu. Pengetahuan kita tidak cukup untuk menyadarkan hati dan pikiran untuk bertindak bijak dan ramah terhadap alam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: