Oleh: muhammadyusufansori | Juni 10, 2010

Hujan Jangan Reda Dulu

Beberapa hari lalu Bapakku membeli pupuk kimia buatan dari toko pertanian untuk memupuk padi yang telah ditananam kurang lebih sebulan yang lalu. Untuk pupuk urea harganya Rp. 1800/Kg. Ya, jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga musim tanam yang lalu. Kenaikan harga pupuk menjadi kekhawatiran sebagian besar petani di desaku apalagi disusul dengan cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini.

Sebagai sawah tadah hujan, areal tanam di kampungku sangat bergantung pada konsentrasi hujan yang turun setiap harinya. Kami khawatir hujan akan berhenti di pertengahan musim tanam kedua ini karena biasanya bulan-bulan ini adalah musim kemarau. Makanya, banyak petani yang memilih menanam palawija daripada kembali menanam padi. Menanam palawija seperti kacangan-kacangan dan umbi-umbian dinilai lebih aman karena palawija tidak memerlukan banyak air.

Hujan yang mengguyur sebagian wilayah Indonesia memang tidak sesuai dengan siklus musim seperti ditahun-tahun sebelumnya. Bulan April hingga Agustus biasanya sudah masuk musim kemarau namun masih ada saja hujan yang turun. Memang, bagi para petani ini adalah berkah yang harus disyukuri karena sawahnya kembali basah dan bisa kembali bercocok tanam. Namun, ini juga menjadi pertanda bahwa alam sudah tidak sesuai dengan siklus sebagaimana biasanya. Musim kemarau tidak bisa diterka begitupun musim hujan tidak bisa ditebak.

Lebih parahnya lagi, para petani  pun sering mengalami kerugian besar ketika cuaca tidak menentu seperti ini. Kami para petani, beramai-ramai mengolah lahan dan bercocok tanam namun secara tiba-tiba hujan tidak turun lagi beberapa hari. Sawah kami kering. Padi yang sudah berumur sebulan atau dua bulan pun menguning karena tidak tersirami. Kadang, ada hujan yang turun namun dengan intensitas rendah. Dan begitulah seterusnya. Akibat dari semua itu, modal bertani ratusan ribu hingga jutaan rupiah pun melayang begitu saja. Uang untuk membeli pupuk, upah pekerja dan sewa traktor sepertinya tidak akan terbayar kembali.

Kalempoh, begitulah orang Sunda menyebutnya. Daun padi yang tadinya hijau indah dipandang mata menjadi kuning keemasan sebelum waktunya. Kuning warna daun padi bukan karena musim panen yang sudah tiba tetapi mengering karena kurang air. Mending jika masih bisa dipakai pakan ternak namun jika tidak bisa dimanfaatkan maka rugi besar yang dirasakan.

Begitulah imbas pemanasan global bagi petani. Kerugian-kerugian  sudah sering dialami mereka. Padahal bagi kami orang desa, menjaga lingkungan sudah seharusnya dan senantiasa kami laksanakan. Namun, justru memanasnya suhu bumi adalah ulah cerobong-cerobong industri yang menyemburkan asap hitam ke udara.

Dibalik semua yang telah terjadi dan akan terjadi, kami berharap dan berdoa semoga hujan jangan dulu reda sebelum panen tiba. Kami ingin sekali menikmati hasil panen kali ini. Kami akan sangat bersyukur jika Yang Maha Kuasa memberikan rizki luar biasa bagi kami. Kami ingin melihat padi di sawah kami tumbuh, daun-daunnya membesar dan mengeluarkan bulir padi hingga musim panen tiba.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: