Oleh: muhammadyusufansori | April 30, 2010

Mengubah Paradigma Bangsa Buruh

Memperingati Hari Buruh Internasional 1 Mei 2010

Memasuki bulan Mei 2010 ini kita diingatkan pada perjuangan kaum buruh di dunia dalam menentukan nasib mereka. Peringatan hari buruh internasional _biasa disebut May Day_ yang diperingati setiap tahunnya ini menjadi salah satu tonggak perjuangan kaum buruh untuk turut serta menentukan nasibnya tanpa harus terus-menerus dikendalikan oleh para kapitalis. Para kaum buruh menginginkan para kapitalis untuk lebih memenuhi hak mereka sebagai individu manusia. Momen ini sering dijadikan cara untuk memperlihatkan eksistensi kaum buruh ditengah ancaman liberalisasi global yang terus menyengsarakan banyak pihak. Di sisi lain, para kapitalis semakin menikmati kue liberalisasi ekonomi di tengah penderitaan banyak buruh di dunia.

Kita sebagai masyarakat yang hidup di negara kapitalistik mau-tidak mau harus bisa ‘menyesuaikan’ kondisi supaya dapat bertahan hidup. Ya, pola pikir kita dituntut untuk lebih realistis tanpa harus senantiasa berpangku tangan pada orang lain dalam menentukan kesejahteraan hidup kita. Sikap mandiri dan siap bersaing adalah ciri khas masyarakat kapitalis yang sayangnya belum menjadi budaya hidup bangsa ini. Kaum elitis terlanjur menjadikan ideologi kapitalisme sebagai dasar berbangsa dan bernegara tetapi tidak diikuti dengan kesiapan rakyatnya.

Harus kita akui bahwa bangsa kita adalah bangsa kuli. Tidak banyak orang yang berpikiran untuk menjadi pengusaha tetapi begitu banyak orang yang bercita-cita untuk menjadi buruh. Lulusan sekolah dasar dan menengah bahkan sarjana pun banyak yang bercita-cita untuk menjadi buruh. Sudah menjadi tren di masyarakat untuk mengangkat opini dalam obrolan, “Ingin kerja dimana?” dan jarang kita mendengar. “setelah lulus ingin membuka usaha apa?”. Paradigma umum ini membuat ribuan orang berurbanisasi dan melupakan pembangunan daerahnya masing-masing. Banyak anak muda yang memilih bekerja di pabrik milik asing daripada menggarap lahan milik keluarganya. Bahkan, ada orang tua yang tidak mengijinkan anaknya menikah karena belum punya pekerjaan padahal dia sudah memiliki usaha sendiri.

Saya tidak bermaksud menyudutkan kaum buruh, tetapi saya mengajak untuk bersikap realistis. Ingat, saat ini tidak ada negara sosialis-komunis murni dimana kaum buruh sangat berkuasa. Semuanya ditentukan mekanisme pasar. Hajat hidup orang banyak tidak dilindungi oleh negara karena perannya yang semakin dikerdilkan. Hanya dengan persainganlah kebutuhan hidup manusia akan terpenuhi. Kaum buruh saat ini tidak ubahnya binatang buruan yang menempati urutan terbawah klasifikasi dalam rantai makanan di rimba raya. Barangsiapa yang tidak bisa menyesuaikan diri maka dia akan tereleminasi dari peradaban.

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi kawan lama saya di rumahnya di kawasan pemukiman Pasrijati, Kabupaten Bandung. Dia seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung. Selain kuliah, saat ini dia membawahi dua orang karyawan untuk menjalankan usaha penjualan aksesoris dan mainan anak-anak. Banyak ilmu yang saya peroleh dari dirinya ketika saya perhatikan langsung kondisi real keluarganya. Dari usahanya, dia dapat membiayai kuliahnya dan menghidupi keluarganya.

Pelajaran terpenting yang saya petik adalah betapa dia tidak ingin jadi buruh seperti mahasiswa pada umumnya. Dengan ilmu yang dimilikinya, dia berharap bisa mengembangkan usahanya. Saya pikir, tidak banyak mahasiswa yang mempunyai pikiran seperti ini. Ditengah ‘kekalutan’ kehidupan urban, hanya orang-orang seperti inilah yang dapat bertahan hidup. Bahkan, laksana pelita di malam hari mereka bisa memberikan manfaat pada banyak orang. Ketika ribuan anak muda antri melamar pekerjaan maka sepertinya mereka adalah orang-orang yang duduk di meja untuk mewawancarai para pencari kerja.

Mengubah paradigma hidup merupakan kunci untuk membuka pintu ruang kehidupan yang lebih realistis. Terkadang, kita mengejar banyak impian yang belum tentu kesampaian tetapi kita sendiri lupa pada potensi diri dan peluang di sekitar kita. Sumberdaya alam luar biasa yang dimiliki oleh negeri ini hanya bisa digali oleh orang-orang yang memiliki mimpi realistis dalam hidupnya. Banyak diantara kita yang ingin pergi ke bulan, tetapi tidak tahu seberapa besar bumi ini. Banyak orang yang jauh-jauh mencari kehidupan di negeri orang, tetapi tidak tahu bahwa negeri orang tidak lebih hebat dari negerinya sendiri.

Dimedia massa, saya perhatikan betapa banyak buruh pabrik milik investor multinasonal yang menuntut hak hidupnya. Pernahkan kita sadar, bukankah seharusnya kita yang berkuasa di negeri ini bukan orang lain?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: