Oleh: muhammadyusufansori | April 19, 2010

Kewirausahaan Sosial, Sesuatu yang Terlupakan

Inpirasi dari Garut

Kemarin (17 April 2010), saya dan beberapa rekan saya mengikuti seminar kewirausahaan dengan tema Social Entreupreuneur atau kewirausahaan sosial di Kampus Institut  Teknologi Bandung (ITB) di Bandung. Di Indonesia, kewirausahaan sosial merupakan tema baru yang diperbincangkan diberbagai media dan pertemuan. Konsep kewirausahaan sosial ini merupakan cara pandang baru tentang wirausaha yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dalam aspek sosial.

Diantara pembicara ada seseorang yang sudah cukup lama saya kenal di media massa yakni Goris Mustaqim. Goris merupakan alumni ITB yang punya keinginan kuat untuk membangun Garut sebagai kampung halamannya. Dengan ilmu keorganisasian yang dimilikinya, dia mencoba mengakomodir potensi Kabupaten Garut. Upayanya itu ternyata membuahkan hasil dengan digelarnya beberapa event yang mengangkat potensi Garut secara umum.

Ada pemikirannya yang patut kita tiru yakni keinginannya untuk membangun bangsa ini yang dimulai dari pembangunan pedesaan. Beberapa waktu lalu saya pernah membaca profilnya di Harian Media Indonesia.  “Membangun Bangsa dari Desa”, begitulah judul artikel yang dimuat di kolom ‘Sosok’. Pemikirannya yang sederhana memberikan inspirasi pada kita bahwa pemerataan pembangunan harus dilakukan oleh putra daerah yang tentu saja memahami kondisi tanah kelahirannya sendiri. Pernyataannya cukup menohok ketika dia menyindir para peserta _sebagian besar mahasiswa_ ketika tidak mau membangun daerahnya sendiri. Dia mengibaratkan kaum intelektual di negeri ini seperti menara gading yang tidak bisa membaur dengan masyarakat sebagai subjek pembangunan.

Hal yang _terus terang_ sulit saya tiru adalah konsistensinya dalam melaksanakan ide-idenya. Tidak banyak anak muda yang mau ‘bersusah payah’ membangun daerahnya sendiri. Harus kita akui bahwa kebanyakan anak muda saat ini lebih suka berkarir di kota dengan pekerjaan yang sudah ditentukan. Keputusannya untuk menjadikan wirausaha sosial sebagai karirnya tidaklah mudah untuk ditiru oleh setiap orang. Seperti yang disampaikan David Bornstein bahwa wirausahawan sosial senantiasa menabrak pakem alias keumuman masyarakat disekitarnya. Keinginannya kuat untuk memperbaiki bangsa ini menjadi motifasi utama untuk tetap konsisten menjalankan apa yang telah dirancangnya selama ini.

Selain tekadnya yang kuat, ada banyak strategi yang telah dirancangnya sehingga efektif untuk dilaksanakan. Dia memulai aktifitasnya dengan merintis sebuah organisasi yang bisa menyatukan ide-ide sehingga berwujud aksi nyata. Asgar Muda menjadi tempat untuk berkreasi dan menyaring ide-ide yang datang silih berganti. Goris beranggapan bahwa segala sesuatunya harus dilakukan secara bersama-sama karena kebersamaan menjadi kunci sukses atas apa yang telah kita lakukan. Tanpa adanya teamwork, maka semuanya tidak ada apa-apanya.


Responses

  1. makasih infonya
    dengan ini saya mendapat tambahan ilmu,
    selamat hari bumi… meski sdikit klewat
    Thanks…

  2. sama-sama. Mudah-mudahan kita bisa menjaga bumi kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: