Oleh: muhammadyusufansori | Maret 25, 2010

Inisiatif Masyarakat sebagai Awal Pergerakan Pembangunan Pedesaan

Beberapa waktu lalu saya terlibat diskusi dengan sahabat saya tentang ‘darimana sebuah pembangunan berawal?’. Diskusi ringan ini menjadi sebuah gambaran yang baru kali ini dimengerti. Selama ini saya  belum bisa mendapatkan jawaban memuaskan dari kuliah-kuliah yang  diikuti. Dari obrolan tersebut, didapat kesimpulan bahwa inisiatif pembangunan di negeri ini harus senantiasa berasal dari masyarakat. Jadi, polanya top up bukan top down, dimana arah pembangunan sebaiknya di tentukan oleh masyarakat bukan dari pemerintah.

Idelologi kapitalisme yang dianut oleh Indonesia ‘memaksa’ kita untuk menjadi manusia-manusia mandiri yang tidak bergantung pada siapapun termasuk pemerintah. Dikala peran pemerintah semakin dikerdilkan ,maka segala inisiatif harus berasal dari masyarakat. Pada buktinya, banyak ide yang berasal dari pemerintah tidak bisa ditafsirkan dengan baik oleh masyarakat. Masyarakat kapitalisme berwujud menjadi masyarakat yang ‘sulit diatur’ karena mereka merasa mempunyai ide dan prinsip yang senantiasa berbeda.

Okelah kalau begitu, lalu kenapa kita begitu miskin ide? Dikala pemerintah sudah kewalahan mengajak masyarakat untuk mengubah perilaku kenapa masyarakat tidak mau mengatur hidupnya sendiri. Jika kita punya cara sendiri untuk menentukan masa depan bangsa, lantas kenapa pembangunan di negeri ini begitu lamban?

Saya akan mempersempit bahasan kita pada konsep pembangunan di pedesaan supaya bisa mendapatkan gambaran yang lebih sederhana. Kita semua tahu kalau pedesaan di negeri ini kurang mendapatkan perhatian serius. Siapa yang salah? Menurut saya, ya kita sendiri yang salah. Tidak perlu menyalahkan pemerintah. Sesuai dengan judul tulisan ini, saya berpendapat bahwa pembangunan di pedesaan akan berjalan jika inisiatif berasal dari masyarakat bukan dari pemerintah. Dalam tatanan negara kapitalisme, pemerintah hanyalah berfungsi sebagai lembaga administratif. Pemerintah tidak berperan sebagai roda penggerak tetapi masyarakatlah yang menjadi penggerak roda pembangunan.

Masalahnya, seberapa besar kemauan dan keseriusan kita menjalankan setiap ide yang kita lontarkan ke tengah masyarakat. Misalnya, saat ini senantiasa digalakan pembangunan pedesaan dengan Program Nasional Pengembangan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri). Program ini cukup bagus untuk meningkatkan kondisi masyarakat menjadi lebih sejahtera. Program ini dimaksudkan untuk merangsang masyarakat supaya mengemukakan ide yang sesuai dengan kebutuhannya.

Namun, apakah program tersebut akan berjalan dengan baik jika masyarakat tidak begitu antusias menjalankannya? Dulu, ketiadaan dana menjadi alasan utama mandegnya pembangunan pedesaan. Sekarang dana sudah mudah didapatkan, apalagi yang menjadi masalahnya?

Inisiatif Lahir dari Proses Berpikir

Inisiatif dari pribadi atau kelompok masyarakat lahir karena adanya proses berpikir. Proses berpikir ini terjadi karena melihat fakta di sekitarnya sehingga melahirkan ide-ide yang diharapkan menjadi pemecahan masalah. Jika masyarakat tidak antusias membangun desanya sendiri, berarti kita jarang berpikir? Pernahkah kita berpikir bagaimana caranya mengairi sawah-sawah atau ladang kita ketika kemarau tiba?

Kita akan terbiasa berpikir apabila kita memiliki kepedulian dan keinginan untuk maju. Kepedulian kita akan kondisi desa tempat kita dilahirkan menjadi pemicu untuk senantiasa memikirkan problematika yang terjadi. Pemecahan terhadap masalah yang sedang terjadi senantiasa membawa kita kearah perbaikan. Meningkatnya kondisi masyarakat jadi lebih baik merupakan buah dari upaya untuk senantiasa berpikir.

Cukup dengan berpikir? Tentu tidak. Inisiatif itu tidak hanya berupa ide-ide yang terbenam dalam benak seseorang tetapi juga tertuang dalam tulisan dan aksi nyata. Insiatif menjadi stimulus bagi setiap orang untuk memikirkan hal yang sama dengan yang lainnya. Misalnya, inisiatif pembuatan irigasi dengan menggunakan pipa dari bambu. Ketika banyak orang yang merasakan manfaat dari pemasangan pipa-pipa untuk mengairi sawah maka biasanya akan banyak pula yang meniru apa yang telah dilakukan inisiator.

Diskusi merupakan salah satu cara untuk memikirkan masalah yang terjadi dan menyebarkan ide dari penyelesaian masalah tersebut. Dalam diskusi, setiap orang dituntut untuk berbicara dan mengeluarkan ide-ide yang ada dalam otaknya. Memecahkan masalah secara bersama-sama serasa lebih mudah bila dibandingkan dengan berpikir sendiri dan melakukan ide itu sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: