Oleh: muhammadyusufansori | Maret 19, 2010

Harga Gabah Sulit Dikendalikan

Sistem ekonomi yang berorientasi pada pasar tidak memberikan keleluasaan pada pemerintah atau individu untuk mengendalikan harga. Hal ini terbukti pada harga gabah di pasaran yang mengalami penurunan pada masa panen. Meskipun pemerintah sudah menetapkan harga gabah namun para petani banyak yang tidak bisa melawan ketika para tengkulak mematok harga dibawah harga pembelian pemerintah. Kejadian ini kembali menjadi bukti bahwa patokan harga gabah tidak menjadi solusi atas terpuruknya para petani di pedesaan.

Memasuki panen raya, sejumlah petani di Purbalingga dan Banjarnegara, Jawa Tengah mengeluhkan anjloknya harga gabah. Harga gabah kering panen (GKP) kini hanya berkisar antara Rp. 2.200 – Rp. 2.300 per kilogram. Padahal berdasarkan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp. 2.640 per kilogram (Media Indonesia, 15/3/2010). Para petani sulit untuk menawar harga lebih tinggi lagi karena adanya keterpaksaan. Logikanya, daripada hasil panennya tidak terjual, ya lebih baik menjual dengan harga rendah.

Problematika ini harus menjadi perhatian kita bersama, bahwa persoalan petani masih banyak yang harus diselesaikan. Kenaikan harga pupuk April 2010 mendatang ternyata tidak dibarengi dengan kenaikan harga gabah. Meskipun Kementerian Pertanian sudah mematok harga beli gabah, tetapi kenyataan dilapangan berkata lain. Kehendak pasar tidak bisa diintervensi oleh penguasa sekalipun. Dalam kasus ini, petani tidak memiliki daya tawar yang tinggi sehingga bukan menjadi penentu harga hasil panen yang dimilikinya.

Pola oligopsoni pada perdagangan padi menjadi salah satu penghambat petani untuk bisa menentukan nasib sendiri. Anjloknya harga gabah dibeberapa daerah menjadi bukti bahwa nasib petani kita semakin tercekik. Apalagi, degan harga serendah ini belum tentu petani dapat mengembalikan modal selama bertani. Sarana penunjang produksi yang belum memadai tidak bisa mengimbangi harga jual gabah di pasaran.

Apabila sarana penunjang produksi seperti air, pupuk, bibit dan teknologi pengolahan lahan sudah memadai maka sepertinya petani tidak akan mengeluhkan rendahnya harga jual gabah. Berapa pun harga jual gabah, akan diterima petani jika ada margin menguntungkan bila dikurangi modal yang telah dikeluarkan petani. Kelangkaan pupuk, upah tenaga kerja dan perubahan cuaca menjadikan modal bertani semakin mahal. Tingginya modal yang dikeluarkan oleh petani tidak sebanding dengan harga jual gabah sehingga banyak petani yang sebenarnya secara keekonomian mengalami kerugian.

Bulog pun Hanya Tengkulak

Badan Urusan Logistik (Bulog) yang sedianya membeli gabah dari para petani ternyata tidak membeli gabah dari semua petani. Peran Bulog seperti itu tak ubahnya para tengkulak. Apakah selama ini Bulog tidak membuat kontrak dengan petani? Bulog tidak memberikan kepastian kepada petani jika hasil panennya akan dibeli. Lebih jauh, Bulog tidak memberikan pengayoman pada petani supaya dapat menjaga kualitas hasil panennya.

Penentuan harga beli pemerintah hanya berlaku untuk Bulog, tidak berlaku bagi para tengkulak. Untuk bisa mengendalikan harga gabah di pasaran, maka Bulog harus berlomba untuk segera mendapatkan gabah dari petani. Bulog harus bisa meyakinkan petani bahwa hasil panennya tidak boleh dijual ke tengkulak. Pembelian gabah secara besar-besaran oleh Bulog bisa mengendalikan harga. Alangkah lebih baik Bulog turun langsung ke lapangan tanpa harus melalui mitra sehingga petani bisa langsung merasakan manfaat Bulog sebagai badan usaha milik masyarakat.

Apabila Bulog masih kalah ‘gesit’ dengan para tengkulak, maka untuk apa pemerintah menentukan harga gabah? Biarkan saja harga ditentukan oleh pasar. Toh, pada faktanya harga tetap liar tidak terkendali.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: