Oleh: muhammadyusufansori | Februari 25, 2010

Rencana Kenaikan Harga Pupuk Pemicu Kenaikan Harga Beras

Menteri Pertanian berencana menaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk pada April 2010. Sebelum memulai rencananya, Mentan menaikan harga beli pemerintah gabah kering  di tingkat petani. Strategi ini dilakukan sebagai upaya ‘merayu’ petani supaya tidak protes ketika harga pupuk naik beberapa bulan ke depan. Namun, rayuan ini membuat cemburu para petani yang padinya tidak dibeli oleh Bulog sebagai kepanjangan tangan pemerintah.

Para petani yang menginginkan kesetaraan harga jual gabah ‘ngotot’ untuk menjual hasil produksi sawah mereka kepada pengepul/bandar/tengkulak dengan harga yang sama. Kenaikan harga gabah ini hanyalah efek psikologis akibat Pemerintah tidak membeli gabah petani secara merata. Para petani pun mencium niat tidak baik dari pemerintah ketika menaikan harga beli gabah. Mereka pun tahu bahwa pendapatan tidak akan berubah menjadi lebih baik jika nanti harga pupuk dinaikan.

Dalam hal ini, Mentan gegabah sudah berani menaikan harga pupuk dengan alasan penyesuaian alokasi anggaran. Pak Suswono tidak bisa mencium efek ‘bola liar’ jika berani menentukan kenaikan harga gabah. Kesalahan ini jelas sudah memantik api dalam jerami kering sehingga semakin membesar dan sulit dipadamkan.

Kita harus ingat bahwa ekonomi yang sedang dijalankan negeri ini adalah ekonomi pasar bebas. Tentu saja harga barang dan jasa ditentukan oleh mekanisme pasar. Pemerintah tidak bisa mematok harga begitu saja karena beras bukanlah komoditas yang dimonopoli seperti bahan bakar minyak dan gas.  Seharusnya, Mentan lebih mengkosentrasikan diri untuk menjaga stabilitas harga pangan dengan menyediakan infrastruktur dan sarana penunjang produksi lain yang lebih murah dan mudah didapat.

Pupuk sebagai sarana penunjang produksi pertanian harus bisa diperoleh dengan mudah oleh petani dengan harga murah. Tentu saja, Mentan harus bisa meyakinkan presiden dan jajaran menteri lainnya bahwa menyubsidi pupuk lebih harus lebih didahulukan dibandingkan menyubsidi oang miskin dalam bentuk beras. Pepatah mengatakan, lebih baik memberi kail dan umpan daripada memberi ikannya.

Ketika harga pupuk tinggi, akan ada banyak alasan yang disampaikan. Bahkan, biasanya pemerintah menganjurkan penggunaan pupuk alami. Seakan pemerintah lepas tanggung jawab. Bahkan para pedagang dan spekulan yang jadi kambing hitam. Padahal, pemerintah sendiri terlalu banyak berspekulasi dan ternyata meleset dari perkiraan.

Berapa uang yang dimiliki Pemerintah untuk sektor pertanian? Pasti lebih diutamakan untuk proyek perluasan lahan yang belum tentu memberikan hasil signifikan. Sedangkan lahan yang sudah ada tidak digarap dengan optimal.

Gubernur Jabar Kalang Kabut

Menghadapi kenaikan harga beras ini Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kalang kabut ketika media memberitakan bahwa banyak warga Kecamatan Cibiuk Kabupaten Garut yang menngonsumsi oyek sebagai pangan pengganti beras (Tribun Jabar, 14/2/2010). Gubernur kecolongan dengan kenyataan ini bahwa ternyata masih ada rakyat Jabar yang kesulitan mendapatkan beras. Selain di Garut, Kompas (12/2) memberitakan bahwa beberapa masyarakat Cirebon sudah mengganti beras dengan ikan karena mahalnya harga beras di Cirebon.

Jika memperhatikan kondisi ini, sebenarnya apa yang salah? Jawa Barat adalah lumbung beras nasional. Di propinsi ini 423.123 ton beras raskin disebarkan dengan jatah 13 kilogram per rumahtangga perbulan. Beras raskin yang harganya hanya Rp. 1.600 per kilogram masih sulit didapatkan oleh beberapa rumah tangga  di Jawa Barat.

Kondisi ini semakin membuktikan bahwa program raskin ini tidak benar-benar menyentuh banyak orang miskin. Distribusi raskin ini hanya mengandalkan data mentah dimana belum tentu sesuai dengan kondisi di lapangan. Banyak kasus salah sasaran dalam mendistribusikan raskin ini. Masih banyak rumah tangga yang mampu membeli beras dengan harga pasar ternyata mendapatkan jatah beras miskin.

Ironi, penduduk Jawa Barat ini seperti anak ayam mati di lumbung padi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: