Oleh: muhammadyusufansori | Januari 8, 2010

Selamat Datang Produk Cina

Diterbitkan oleh Tribun Jabar edisi 6 Januari 2010

Pergantian tahun merupakan kebahagiaan bagi sebagian orang tetapi juga bisa menjadi ‘ketakutan’ bagi yang lain. Sudah menjadi tradisi, banyak orang yang menyambut tahun baru dengan sukacita. Di jalan-jalan, pusat perbelanjaan, alun-alun kota ataupun di rumah masyarakat rela tidak tidur semalaman untuk menanti detik-detik pergantian tahun. Namun, sadarkah kita bahwa ternyata banyak yang menanti detik-detik pergantian tahun dengan rasa khawatir.

Perdagangan Bebas yang Merugikan

Rasa khawatir itu cukup beralasan karena di 2010 kita akan dibanjiri produk-produk dari negeri China. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, alat elektronik hingga bahan bangunan akan mudah dijumpai di pasaran dalam negeri. Kenapa ini menjadi kekhawatiran?

Membanjirnya produk China menjadi semacam serangan ‘rudal’ bagi masyarakat karena kita sulit untuk menepisnya. Bahan-bahan kebutuhan dasar yang seyogyanya diproduksi di dalam negeri, nanti akan senantiasa bergantung pada produk impor. Baju, celana dan sepatu yang kita pakai bisa jadi bukan dari Cibaduyut atau Rancaekek tetapi sudah berlabelkan ‘Made in China’. Konsumen memang tidak terlalu dirugikan, tetapi tengoklah para pengusaha yang biasa menyuplai kebutuhan kita?

Pengusaha yang dimaksud bukan hanya pengusaha dengan omzet jutaan bahkan milyaran rupiah tetapi juga berimbas pada kemandegan atau kemunduran usaha kecil. Sebagai contoh,  produsen kulit lokal yang biasa membuat produk pakaian berbahan kulit akan mengalami kekalahan persaingan di negerinya sendiri. Kekalahan itu diakibatkan oleh membanjirnya produk berbahan kulit dari China yang ditaksir berharga murah. Logikanya, konsumen akan cenderung memilih produk murah dan ‘melupakan’ produk berbahan kulit yang cukup mahal.

Jika pengusaha kulit mengalami penurunan penjualan maka secara otomatis akan terjadi penurunan produksi bahkan berhenti sama sekali. Efeknya akan merembat pada jumlah kulit mentah yang biasa dibeli dari peternak. Peternak pun mengalami kerugian. Lebih parah lagi, ketika suatu perusahaan gulung tikar akan ada berapa orang karyawan yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Kualitas dan harga yang ditawarkan oleh produk China memang sulit diimbangi oleh produk dalam negeri. Fasilitas produksi yang efektif dan efisien di China membuat produk China lebih murah dibandingkan apa yang biasa kita beli dari pengusaha lokal. Kondisi ini bisa mengubah tren konsumen yang setia pada produk pribumi  menjadi berpaling muka dan melirik produk China.

Awal dari kemelut ini adalah berlakunya perjanjian perdagangan bebas antara negara-negara anggota ASEAN dengan China. Free Trade Agreement ASEAN-China (FTA-AC) akan berlaku pada 1 Januari 2010 setelah disepakati pada 2004. Perjanjian perdagangan ini jelas merugikan pihak Indonesia karena nilai ekspor Indonesia ke China tidak sebanding dengan nilai ekspor China ke Indonesia, begitupun sebaliknya. Menurut para ahli, nilai ekspor kita hanya naik 2,29 % menjadi 8,20 %. Tapi, sebaliknya impor kita dari China bakal naik 2,81 % ,menjadi 11,37 %.

Kenyataannya, pihak Indonesia belum siap menghadapi serbuan produk China sehingga dikhawatirkan rawan terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh perusahaan yang kolaps dapat meningkatkan jumlah pengangguran. Ledakan pengangguran ini berkibat fatal pada daya beli masyarakat sehingga ada kemungkinan masyarakat cenderung memilih produk murah dari China karena kecilnya pendapatan yang mereka miliki.

Belilah Pangan Produk Negeri Sendiri

Perjanjian sudah ditanda tangani, sekarang kita hanya bisa menyambut produk China dengan hati sedih. Untuk barang elektronik dan kendaraan bermotor, kita bisa maklumi karena belum mampu untuk memproduksinya. Namun, apakah kita masih bertoleransi dengan produk pangan impor yang nanti kita makan?

Konsumen adalah pihak terakhir yang menjadi labuhan produk-produk tersebut. Kita diuji, sejauh mana kesetiaan kita pada produk lokal yang selama ini didengung-dengungkan banyak pihak. Konsumen adalah raja yang menentukan suatu produk dijual atau tidak. Meskipun dengan harga murah, jika konsumen tidak suka kenapa harus dijual. Logika seperti inilah yang harus ada pada diri kita.

Proteksi perdagangan oleh pemerintah adalah sesuatu yang tidak mungkin karena negara ini akan dianggap mengkhianati perjanjian. Meskipun sertifikasi produk halal akan dilakukan MUI, belum tentu bisa membendung produk pangan yang akan membanjiri ‘rumah kita’. Bisa saja, China mengekspor produk halal ke Indonesia, karena mereka pun tahu sebagian besar konsumen Indonesia adalah muslim. Strategi ini sudah dilakukan Australia ketika mengekspor daging sapi ke Indonesia. Daging dari Australia tetap laku  karena sudah ada sertikat halalnya. Imbasnya, peternakan lokal menjadi sulit berkembang.

Sudah saatnya kita merubah gaya hidup kita yang serba instan. Membeli makanan kemasan supaya cepat disajikan adalah sikap yang sudah harus dijauhi. Alangkah lebih baik kita memakan pangan hasil bumi negeri sendiri. Dengan begitu, akan ada banyak orang yang tertolong oleh kita seperti petani, peternak, nelayan, pedagang pasar tradisional dan masih banyak lagi orang merasakan manfaat atas apa yang kita lakukan.

Konsumen adalah penentu perdagangan dunia, bukan produsen. Keputusan ada ditangan kita. Masalahnya, siapkah kita melawan ‘serangan’ ini?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: