Oleh: muhammadyusufansori | Desember 4, 2009

Melawan Hegemoni WTO

Isu perdagangan bebas memang menjadi isu hangat dunia yang dimana efeknya tidak disadari oleh banyak orang. Perekenomian global yang sulit  difahami membuat orang enggan memperhatikan berbagai upaya WTO (World Trade Organization) dalam mengendalikan perekonomian dunia. Secara tersirat, kita dapat melihat kelicikan negara-negara maju ketika mereka menyerang banyak negara dunia ketiga dengan berbagai produk impor yang membanjiri hampir disetiap negara.

Dunia Tani  mengajak kita untuk setidaknya mengetahui apa yang sedang terjadi sehingga kita bisa berbuat _sedikit atau banyak_ untuk membentengi diri dan lingkungan kita dari kejamnya ‘perdagangan bebas’. Apakah kita menyadari bahwa kenaikan harga gula, telur, susu, daging dan berbagai produk yang kita konsumsi adalah ulah dari organisasi yang namanya WTO? Terkadang kita banyak menyalahkan pemerintah atas tekanan hidup yang kita alami. Tapi, saat ini kita bisa berbuat sebagai upaya kita untuk keluar dari ketergantungan dunia luar!

Sikap masyarakat kita yang serba menggantungkan diri pada dunia luar adalah hal yang harus dievaluasi bahkan dihilangkan sama sekali. Maksudnya, kita bisa memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus menggunakan produk impor dimana harganya senantiasa dikendalikan negara pengekspor. Pernahkan terpikir dalam benak kita untuk memakan telur, daging, susu, jagung atau kedelai hasil dari saudara-saudara kita para petani di Nusantara?

Dunia Tani lebih memfokuskan ajakan pada konsumsi bahan pangan karena semua itu ternyata dapat kita lakukan. Biarlah barang elektronik masih menggunakan barang impor, toh karena kita belum mampu produksi. Tapi, masa makan nasi aja harus pakai padi yang ditanam di Thailand? Makan daging dari Australia atau minum susu dari New Zeland?

Kemandirian pangan yang selama ini didengungkan banyak kalangan hanya akan jadi isapan jempol belaka ketika masih banyak orang yang enggan mengelola tanahnya untuk makan keluarganya di kemudian hari. Kata kuncinya, sejauh mana kita mau berbuat _sekecil apa pun_ untuk menyediakan pangan. Ingat, bukan hanya biaya dan teknologi yang kita perlukan tapi tunjangan sumberdaya manusia adalah yang utama.

Perlawanan terhadap hegemoni pangan dunia tidak harus senantiasa lewat meja perundingan. Ketika sebuah perundingan tidak mencapai kata sepakat, maka sikap mandiri juga merupakan sebuah perlawanan. Dunia Tani punya keyakinan bahwa konsumsi dalam negeri menjadi ujung tombak untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Coba bayangkan, peternak sapi perah akan lebih rajin bekerja ketika produk susu mereka dibeli oleh tetangganya. Selama ini, penurunan terjadi karena peternak sudah bosan memeras susu lantaran kalah bersaing dengan susu impor.

Perdagangan bebas menjadi perangkap bagi setiap individu di dunia ketika mereka sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidupnya. Perangkap itu bisa kita hindari ketika kita tidak mengikuti jalan yang ‘ditunjukan’ oleh WTO. Jalan itu adalah kebiasaan kita membeli produk impor.

Petani Jadi Tumbal WTO

Tiga hari belakangan (30 Nopember-2 Desember 2009) telah terjadi pertemuan para Menteri Perdagangan negara 153 negara anggota WTO. Pertemuan itu diwarnai demontrasi dari pihak yang beranggapan bahwa WTO merugikan para petani di banyak negara. Banyak petani miskin yang ‘dijajah’ oleh kebijakan perdagangan WTO. Para Petani yang mengolah lahan mereka hanya jadi tumbal karena produk mereka tergilas oleh produk impor yang jauh lebih murah.

Murahnya harga produk impor karena negara pengekspor memberikan subsidi yang besar terhadap barang pertaniannya, sedangkan negara-negara miskin tidak mampu memberikan subsidi kepada para petaninya. Banyak negara importir yang tidak bisa menahan laju ekspor pangan karena adanya ketergantungan yang tinggi akan produk-produk pangan tertentu.

Ketika melihat kondisi seperti ini, apakah kita masih berdiam diri?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: