Oleh: muhammadyusufansori | November 12, 2009

Kekuatan Konsumen untuk Melawan Dominasi Pasar Peternakan

Perdagangan komoditas peternakan saat ini cenderung dikuasai oleh kartel-kartel perdagangan yang mendominasi pasar nasional. Kartel-kartel tersebut membentuk suatu mekanisme perdagangan dengan menguasai komponen-komponen penting dalam dunia perdagangan komoditas peternakan. Asosiasi-asosiasi perdagangan yang biasa dibentuk tak lain adalah sebagai upaya untuk senantiasa mendominasi pasar. Komoditas daging ayam, daging sapi, telur hingga susu menjadi komoditas dengan harga yang senantiasa ‘dipermainkan’ pasar.

Ada kartel perdagangan yang menamakan dirinya gabungan koperasi, gabungan pengusaha atau gabungan industri. Apapun namanya, ketika dunia usaha dipenuhi oleh kartel-kartel dengan modal besar maka para pengusaha kecil sulit untuk menembus persaingan. Misalnya, harga daging ayam di pasaran saat ini yang terus melonjak ditentukan oleh kartel-kartel pengusaha ayam ras yang dikuasainya dari hulu hingga hilir. Penguasaan pasar dimulai dengan oligopoli bibit ayam atau yang biasa dipasarkan dalam bentuk DOC (Day Old Chick/Ayam Umur Sehari) hingga penguasaan pakan, obat-obatan dan sarana penunjang lainnya.

Ditengah sulitnya usaha ternak kecil menembus pasar, maka saya berpendapat bahwa persaingan bisa dilakukan jika kita memiliki strategi yang bertumpu pada kepercayaan konsumen pada produk kita. Selama ini konsumen kurang tahu asal-muasal produk yang mereka beli. Konsumen biasa membeli daging, telur dan susu di pasar tradisional atau pasar modern tanpa memperhatikan produsen produk tersebut.

Menurut pengalaman saya ketika berdagang susu, ternyata konsumen ingin tahu produk yang mereka beli berasal darimana. Konsumen punya hak untuk tahu maka dari itu kita beri tahu mereka tentang identitas produk tersebut. Kondisi ini bisa menambah kepercayaan konsumen akan produk yang kita jual. Buktinya, ada diantara sekian banyak konsumen yang memilih membeli produk dari peternak rakyat meskipun dengan kualitas lebih rendah jika dibandingkan dengan produk susu yang sekarang banyak beredar di pasaran.

Dengan begitu, saya percaya bahwa pengetahuan konsumen akan identitas produk dapat mempengaruhi keputusan mereka untuk membeli produk para pengusah kecil. Dengan catatan, kita harus jujur dengan produk yang kita miliki. Misalnya, harga murah yang kita tawarkan memang tidak dibarengi dengan kualitas dan citra yang baik yang biasanya ditutup-tutupi oleh pedagang. Ternyata, harga murah menjadi pertimbangan utama sebagian pembeli dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Ketika sebagian besar konsumen sudah memilih produk lokal dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka maka mekanisme pasar akan memihak pada para pengusaha lokal. Kartel-kartel besar pun akan mengurangi dominasi mereka ketika konsumen tidak berpihak pada mereka. Pada kenyataannya, konsumen lah yang mempengaruhi pasar bukan produsen yang menentukan kondisi pasar.

Saat ini, perekonomian cenderung berbasisis konsumsi dimana masyarakat ‘dipaksa’ untuk meningkatkan konsumsi hariannya. Seyogyanya, perdagangan dalam usaha peternakan pun mengandalkan perilaku konsumen untuk membeli produk yang kita miliki. Misalnya, jika susu yang selama ini beredar dipasaran adalah produk pabrik maka sebaiknya konsumen membelinya langsung dari peternak atau koperasi yang ada untuk memotong jalur distribusi susu yang terlalu rumit dan berbelit-belit.

Konsumen adalah pihak terakhir dalam jalur distribusi produk peternakan sehingga punya ‘kekuasaan’ yang dapat mengendalikan mekanisme pasar. Jika selama ini mekanisme pasar dikendalikan oleh pedagang maka sudah saatnya konsumen mempengaruhi fluktualitas harga di pasaran. Ada banyak produsen yang menganjurkan konsumen untuk membeli produk dalam negeri sebagai upaya menjadikan konsumen untuk melawan dominasi produk impor. Memang seperti itulah mekanisme pasar, produsen tidak bisa memaksa konsumen untuk membeli produknya meskipun dengan kualifikasi yang baik.

Beberapa hari yang lalu, di media massa dilaporkan kebangkrutan yang dialami oleh produsen otomotif Amerika seperti General Motor dan Ford. Mereka bersikeras mempertahankan kualitas produk dengan harga yang selangit sehingga ketika krisis global menerpa konsumen pun enggan membeli mobil mahal buatan Amerika. Justru Toyota-lah yang masih tetap bertahan dengan harga produknya yang terjangkau malahan mengganti posisi General Motor sebagai produsen otomotif terbesar di dunia. Setelah diperhatikan, ternyata asumsi konsumen tentang kendaraan sudah mulai berubah. Banyak konsumen yang membeli mobil dengan motif kebutuhan bukan sekedar prestise atau meningkatkan gengsi semata.

Asumsi ini juga berlaku pada produk peternakan. Jika produk susu bermerek yang selama ini dibeli konsumen terus mengalami kenaikan harga, maka jangan aneh ada sebagian konsumen yang beralih ke susu segar tanpa merek karena semata memenuhi kebutuhan gizi. Begitupun dengan daging dan telur, jika konsumen mengalihkan pembeliannya pada peternak sekitar rumahnya maka fluktuasi harga dikendalikan oleh konsumen.

Asumsi-asumsi inilah yang sering mendorong penulis untuk senantiasa beternak dan memenuhi kebutuhan gizi sendiri. Untuk kebutuhan daging ayam dan telur, maka kita memelihara ayam. Begitupun untuk kebutuhan daging sapi dan domba alangkah lebih baik membelinya dari para peternak sekitar kita. Kebiasaan memenuhi pangan sendiri ini sudah mulai luntur akibat perubahan asumsi dan gaya hidup yang ingin serba praktis. Akibatnya, masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pangannya.


Responses

  1. makasih informasinya
    silahkan kunjungi BLOG kami http://h0404055.wordpress.com
    terdapat artikel lain yang bermanfaat, dan kalau berkenan tolong dikasi komentar. Terima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: