Oleh: muhammadyusufansori | Agustus 9, 2009

Waspadai Dampak El Nino terhadap Persediaan Beras Nasional

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Tribun Jabar edisi 31 Juli 2009

Krisis yang melanda negeri ini tidak kunjung berhenti. Setelah badai krisis keuangan melanda negeri ini, kini kita menyambut badai El Nino yang siap menerkam sektor pertanian. Di Indonesia bentuk El Nino adalah kekeringan, sedangkan di Filipina dan negara lainnya berupa taifun. Badai jenis itu juga dapat mempengaruhi debit persediaan air dan ketahanan pangan. Tapi, sebaliknya bagi orang Peru, El Nino berarti Tuhan atau Berkah pasalnya setiap angin ini datang, turun musim hujan yang menyuburkan pertanian mereka.

el-ninoFenomena alam ini telah memberikan dampak yang signifikan bagi persediaan beras nasional. Tiga tahun lalu, badai El Nino yang cukup parah di Indonesia telah mengakibatkan sekitar 50 ribu hektare lahan mengalami puso atau gagal panen (Media Indonesia, 22/7/2009). Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, dalam 10 tahun terkahir dampak terberat El Nino terjadi pada 1997-1998. Untuk 2009, Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian (Deptan) Sutarto Alimoeso mengatakan daerah-daerah rawan badai itu adalah daerah yang pengairannya tidak terjamin seperti Indramayu dan Cirebon. Dalam sepekan saja, sekitar 40 ribu hektare lahan persawahan di Jawa Barat mengalami puso dan gagal panen. Tanaman padi yang terkena kekeringan ataupun gagal panen rata-rata berumur 30-40 hari yakni sudah siap panen.

Fenomena  El Nino ini sangat berpengaruh pada persediaan beras nasional. Kegagalan panen yang dialami oleh para petani menjadikan cadangan beras di gudang menjadi menyusut. Padahal, seharusnya ada pertambahan cadangan beras nasional untuk bisa dimanfaatkan dimasa mendatang. Menurunnya stok beras nasional diharapkan tidak menjadi pemicu krisis pangan yang pernah terjadi pada era 2007/2008 lalu. Tentu saja, kelangkaan beras di pasaran bisa memicu naiknya harga beras di masyarakat. Ketika harga beras sudah mahal, maka ketahanan pangan yang diharapkan tidak akan tercapai.

Banyak kesulitan yang dialami Pemerintah _terutama Pemprop Jabar_ dalam menghadapi fenomena El Nino kali ini. Lahan pertanian di Jawa Barat yang semakin menyempit menjadi salah satu kendala meningkatkan produksi beras. Uniknya, lahan yang ada pun mengalami kekeringan (Pikiran Rakyat, 4/7/2009). Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar Entang Satraatmaja, bertambahnya areal sawah yang kekeringan karena tidak berfungsinya saluruan irigasi yang ada. Oleh karena itu, harus ada keseriusan Pemerintah  untuk memperbaiki irigasi yang ada (Media Indonesia, 23/7/2009).

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi kerawanan beras akibat fenomena iklim El Nino ini, Pemerinah harus meningkatkan cadangan berasnya sebanyak 500.000 ton. Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar menghimbau mengeluarkan anggaran untuk cadangan beras pemerintah (CBP) yang harus disetujui oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Menteri Keuangan. CBP adalah cadangan beras disediakan pemerintah untuk menghadapi kondisi bila sewaktu-waktu terjadi gejolak harga beras atau rawan beras di masyarakat. CBP sebanyak 1 ton idela untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari dampak El Nino. Tambahan CBP 500.000 ton tidak akan digunakan pada tahun 2009. Namun, tambahan itu harus segera disediakan karena diperkirakan hingga kuartal I-2010 pembelian beras akan sulit dilakukan akibat panen yang berkurang (Kompas, 24/7/2009).

Jika CBP tidak memenuhi kebutuhan, maka harus ada kebijakan impor sebesar 1 juta-1,5 juta ton sebagaimana yang disampaikan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Sosial Budaya Subur Budisantoso. Meskipun kebijakan impor ini menguras anggaran, namun langkah tersebut menjadi opsi penanggulangan kelangkaan beras. Hal yang harus diperhatikan adalah pola distribusi beras agar merata. Pola distribusi yang baik tidak membuat ketimpangan harga beras dan besaran cadangan beras di setiap daerah.

Fenomena El Nino ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua supaya senantiasa memperhatikana pertanian sebagai salah satu komponen pembangunan nasional. Ironi, negara Indonesia yang memiliki tanah yang luas dan subur masih mengalami kebingungan mengelola kebutuhan pangan. Harus ada kemauan keras dari kita untuk kembali menata pertanian kita yang selama ini terbengkalai.


Responses

  1. sampai kapan ya kira-kira kemarau tahun ini

    • katanya hingga awal 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: