Oleh: muhammadyusufansori | April 5, 2009

Pembatasan Impor Demi Peternak Lokal

Tulisan ini pernah dimuat di Pikiran Rakyat edisi 4 April 2009

susuKetika membaca headline PR edisi kamis (2/4/2009) yang berjudul Peternakan Terpukul penulis sudah memprediksinya sejak awal. Pekiraan ini muncul ketika membaca PR edisi sabtu (21/3/2009) dimana beberapa pakar menanggapi kebijakan perpanjangan impor dari Australia dan New Zealand. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa kebijakan perpanjangan impor produk peternakan ini harus diikuti dengan pemberian subsidi kepada peternak terutama sektor budidaya yang banyak mengalami kendala. Bahkan ada yang berpendapat bahwa pemerintah provinsi harus menyediakan dana untuk membeli susu dari peternakan rakyat dan diberikan kepada anak sekolah untuk memperbaiki gizi mereka.

Adanya tuntutan subsidi dan pembelian susu dari peternak bukanlah solusi yang aktif ketika menghadapi membanjirnya produk peternakan impor terutama susu dan daging sapi. Pendapat ini seakan meng-iyakan keputusan Menteri Perdagangan untuk membuka kran impor selebar-lebarnya tanpa memperhatikan kondisi peternakan lokal yang semakin terseok-seok.

Subsidi peternakan diberikan untuk menggenjot produksi supaya dapat memenuhi kebutuhan pangan sumber protein nasional. Subsidi dapat diberikan berupa bantuan finansial atau subsidi pakan supaya lebih murah dibandingkan harga sesungguhnya. Dengan begitu, peternak pun dapat berupaya meningkatkan produksinya karena sarana produksi murah dan memadai. Namun, pemberian subsidi tidak akan bisa menyaingi membanjirnya produk impor karena kran impor yang tidak dibatasi dengan proporsional. Kalaupun peternak dapat meningkatkan produksinya dan terbentuk harga yang murah maka konsumen akan cenderung memilih produk impor karena kualitasnya lebih terjaga dengan harga yang sama murahnya.

Saat ini, penulis merasakan kenaikan harga susu lokal yang biasa dijual dari koperasi ke Industri Pengolahan Susu (IPS). Kenaikan harga pakan menjadi penyebab utama terus merangkaknya harga susu lokal. Keadaan ini mendorong IPS untuk beralih ke susu impor dengan meningkatkan kuantitas pemakaian susu impor dibandingkan susu lokal. Apalagi selama ini susu impor menjadi bahan mayoritas yang dipakai IPS. Ingat, laju ekspor-impor lebih cepat dibandingkan proses produksi susu yang jauh lebih lambat, artinya kalaupun ini dilaksanakan tidak akan efektif untuk menandingi laju produk impor yang jauh lebih cepat. Ketika susu impor sudah dibeli konsumen maka Pemerintah masih sibuk membagikan subsidi ke peternak!

Begitupun, opini untuk membeli susu dari peternak rakyat oleh Pemprov Jabar merupakan hal yang rancu. Opini ini seakan mengalihkan isu utama yakni adanya pembukaan kran impor yang terlampau besar. Kita semua maklum, di tengah krisis yang terjadi dana yang ada sebaiknya dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur yang lebih penting seperti jalan raya, perairan dan lahan pertanian. Jika opini ini direalisasikan justru banyak hal yang menjadi kendala seperti infrastruktur yang belum tersedia. Akan butuh banyak waktu untuk menyediakan semua itu sedangkan produk impor sudah lebih dulu sampai ke anak sekolah sebagai konsumen! Selain itu, apakah bisa semua anak SD se-Jawa Barat diberi susu gratis?

Sebagai konsumen dan pedagang susu, saya melihat bahwa harus ada pembenahan kebijakan perdagangan produk peternakan. Saya mengerti bahwa penurunan bea masuk adalah konsekuensi ketika produk nasional ingin masuk ke Australia dan New Zeland. Namun, jangan sampai setiap perjanjian perdagangan yang telah ditanda tangani sarat dengan kepentingan pihak swasta yang ingin produknya laku di pasaran. Coba kita pilih, apakah produk kita terjual ke luar negeri tetapi peternak lokal menjerit-jerit atau produk kita tidak terjual ke luar-negeri tetapi ekonomi rakyat membaik karena mengandalkan produk nasional? Bagaimana kita bisa ‘mencintai produk nasional’ jika produk impor lebih banyak beredar di pasaran dan mudah didapatkan.

Nasi sudah menjadi bubur, perjanjian telah ditanda tangani, ada baiknya jika jalur distribusi yang selama ini ada diubah. Susu dari peternak biasanya dijual ke koperasi dan diangkut ke IPS hingga sampai ke konsumen akhir. Supaya distribusinya lebih cepat, maka sebaiknya susu yang dikumpulkan ke koperasi dijual langsung ke konsumen. Biarlah koperasi bersaing dengan IPS dalam memasarkan produknya. Susu dapat dijual dalam bentuk susu segar atau pasteurisasi dengan kemasan sederhana sehingga harganya murah. Sesuai pengalaman penulis, konsumen cenderung menyukai susu segar atau ‘susu murni’ karena ada anggapan belum dicampur apapun. Dengan promosi yang intensif, maka proses produksi bisa dilakukan tanpa perlu teknologi yang mahal.

Jatinangor, 2 April 2009

Muhammad Yusuf Ansori  (Pedagang Susu dan Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Tinggal di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Phone: 081910268007; (022) 93272549)


Responses

  1. hidup peternakan sapi perah indonesia!!

  2. thanks!You made some good points there. I did a search on the topic and found most people will agree with your blog.It will greatly help me in my activities.
    Thanks though, i’m glad some people share good stuff like this! It will greatly help me in my activities


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: