Oleh: muhammadyusufansori | November 4, 2008

Usaha Peternakan Domba Rakyat, Upaya Mempertahankan Tradisi

Peternakan domba rakyat merupakan bentuk kebiasaan masyarakat pedesaan yang sudah lama ada di Indonesia. Di pedesaan di Jawa Barat banyak dijumpai keluarga yang memiliki ternak domba dengan jumlah sedikit bahkan tidak lebih dari 10 ekor. Pemandangan ini menjadi ‘penghias’ susana desa terutama di daerah pegunungan dengan kultur bertani dan beternak sebagai mata pencaharian.

Kebiasaan ini merupakan kebiasaan keluarga yang sifatnya turun temurun dari generasi ke generasi. Peternak seakan tidak mau meninggalkan ‘warisan keluarga’ ini walaupun mereka harus memeliharanya dalam jumlah yang sangat sedikit. Terlalu sering mereka mengalami kerugian karena secara perhitungan ekonomi usaha yang mereka lakukan tidak membuahkan laba. Apabila suatu saat domba milik mereka dijual, barang tentu dengan harga alakadarnya yang sudah ditentukan oleh tengkulak/bandar domba. Mereka tidak memikirkan perihal untung atau rugi tetapi ada kepuasan tersendiri ketika mereka dapat menuai hasil dari apa yang selama ini mereka lakukan.

Saat ini, penulis tidak melakukan pengamatan secara kemperensif dari seluruh peternak domba di Jawa Barat. Tulsan ini lahir dari pengalaman penulis sebagai peternak domba, mahasiswa Fakultas Peternakan dan konsumen daging domba. Selama ini terlihat bahwa usaha ternak domba hanya sebagai komoditas peternakan yang tidak diunggulkan dibandingkan sapi potong dan ayam broiler. Hal ini terjadi karena konsumen daging domba masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan konsumen daging sapi dan daging ayam. Para peternak mengalami kesulitan pemasaran walaupun sebenarnya peluang usaha ternak domba ini masih terbuka luas.

Penduduk pedesaan merupakan tipe penduduk yang kurang bisa berkarya secara optimal. Tingkat pendidikan menjadi kendala utama dari pembentukan pola pikir penduduk pedesaan. Mereka sering merasa cukup dengan apa yang mereka miliki selama ini sehingga tidak terpacu untuk melakukan usaha lebih baik lagi. Kondisi peternakan rakyat yang minim menjadi gambaran betapa usaha ternak rakyat saat ini masih merupakan tradisi keluarga sebagai tabungan di masa depan.

Sumberdaya alam yang tersedia kurang bisa dimanfaatkan dengan optimal oleh peternak. Tidak adanya modal menjadi alasan utama kurang berkembangnya usaha ternak domba. Apalagi saat ini kondisi alam sudah tidak menentu. Musim kemarau panjang menyebabkan penyediaan pakan sebagai penunjang produksi semakin berkurang. Peternak pun terpaksa mengembalakan dombanya di tegal atau tanah lapang supaya ternak masih bisa bertahan hidup.

Problem ini bukan hanya tugas Pemerintah Daerah untuk memberikan pembinaan dan bantuan dana kepada masyarakat tetapi sudah menjadi tugas semua kalangan yang peduli akan kondisi peternakan domba rakyat. Jawa Barat sebagai sentra peternakan domba sudah harus menjadi pionir dalam meningkatkan produksinya dengan senantiasa melakukan pendekatan intensif kepada para petenak rakyat. Pendekatan ini bermaksud untuk melakukan pembinaan kepada mereka dengan senantiasa terjun lansung dan melakukan apa yang seharusnya mereka perbuat. Kegiatan penyuluhan yang sifatnya sesaat saja tidak cukup karena terbukti tidak menjadi solusi tetapi harus ada upaya nyata untuk mempertahankan kultur beternak domba ini dengan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Bila perlu, kita tinggal di daerah itu dan bersama-sama beternak domba sebagi contoh atas apa yang kita sampaikan kepada mereka.

http://www.duniatani.wordpress.comUpaya ini tidaklah mudah karena harus ada orang yang bisa bersosialisasi dengan baik kepada masyarakat desa. Alangkah lebih baik jika para sarjana peternakan tidak ‘lari’ ke kota tapi berupaya membangun desa yang menjadi sentra peternakan. Sebagai langkah awal, Fakultas Peternakan sebagai lembaga pengayom harus lebih intensif melakukan pembinaan kepada peternak dengan melibatkan mahasiswa. Kegiatan ini tidak sekedar penyuluhan yang sifatnya sesaat dan tidak intensif tetapi sebagai media pembelajaran mahasiswa untuk mencari solusi atas problem yang ada.

Tulisan ini dapat dibaca di Disnak Jabar

About these ads

Responses

  1. tulisan alangkah lebih baik jika dibuatkan analisa usaha sehingga peternak pemula seperti saya yg pengin menjadi peternak bisa menghitung kebutuhan biaya

    terima kasih

  2. Mas Yusuf ansori, saya termasuk peminat serius akan ide2 mas yusuf diatas, say hanya karyawan swasta tetapi melihat peluang yg sangat bagus dg ternak domba, dulu ketika msh di desa saya acuh thdp keadaan yg mas utaran diatas, tetapi setelah hidup dikota -/+10 th, pola pikir saya malah berubah persis seperti yg mas yusuf uraikan diatas.

  3. to Mas M. Sukri Kasim
    Terima kasih atas komentarnya.
    Untuk analisa usaha ternak domba, saya tlah mencantumkannya di halamana ‘domba’. silakan klik menu ‘DOMBA’. Di situ saya melampirkan segala sesatu tentang domba yang sifatnya umum. Mudah-mudahan dapat membantu anda.
    Saya mendukung niat anda untk beternak domba karena kala kita tidak mencoba untk memulai ya kapanlagi.
    Selamat beternak.

  4. to Kang Tanto
    Alhamdulillah, ternyata masih ada yang seide dengan saya.
    Hal yang penting yang harus kita lakukan adalah berusaha untuk mencobanya walaupun dalam skala kecil. Kita manfaatkan dengan maksimal lahan yang kita miliki maka dengan bagitu kita pun akan merasakan apa yang sebenarnya saya utarakan dalam artikel saya.
    Selamat beternak!

  5. Indonesia memerlukan ide2 yang di utarakan oleh mas di atas

    bagaimana kalau ide itu di tuangkan secara detail bagaimana dan prosek2 kedepannya tentang beternak domba da syarast2 pendirian ternak domba gimana

    Apakah pemerintah perduli akan ide cemerlang seperti ituuuuuuuuu?

    • Insya Alloh saya Usahakan.
      Kalo masalah Pemerintah ya silakan saja tanya ke Pemerintah setempat?
      Lagian, kita jangan selalu bergantung pada Pemerintah karena kita harus menjadi orang-orang yang tangguh. Apalagi jangan mau kalo dikasih pinjaman sama Pemerintah, bunganya haram…

  6. Asalamualaikum…
    Apakah sudah ada penampung ternak domba dengan standart harga,karena selama ini kalau dalam jumlah besar masih sulit memasarkanya apalagi peternakan jauh dari kota.

  7. saya sepakat dengan ide itu, sama apa yang saya pikirkan, saya dari fakultas peternakan unpad, inasyallah sebentar lagi lulus, setelah lulus akan mendisain kandang domba dan beternak domba dilembur saya disubang… bangun peternakan jabar..!

    • sae atuh ari kitu mah di. ansor

  8. Setuju dengan ide-idenya mas, karena sangat potensial untuk memberdayakan masyarakat dan sekaligus peningkatan taraf hidup mereka. Oh ya mas mau nanya apa sich bedanya istilah “Bibit Kambing/Domba” dengan “Bakalan Kambing/Domba” karena kalau saya lihat diartikel2 kok ada beda harga yang begitu jauh. Penjelasan mohon lewat japri aja mas (dbudinindito@yahoo.com). Hatur Nuhun mas

  9. salam..
    saat ini saya menjual CD cara beternak sapi potong yang benar, hanya dengan harga 60 ribu (sudah ongkos kirim).
    CD bukan berisi ebook PDF atau paparan data melainkan video interaktif/audio visual bagaimana prakteknyalangsung di lapangan.
    dan tersedia juga buku panduannya (berwarna dan bergambar) harga 60 ribu.
    jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.
    terima kasih


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: