Sumber Pengairan Pertanian
Masyarakat pedesaan di Indonesia merupakan bentuk tatanan masyarakat yang menjadikan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi. Sebagai negara agraris, sebagian penduduk Indonesia bertumpu pada pertanian yang menjadi sumber pendapatan. Pertanian tradisional yang masih dijalankan para petani Indonesia senantiasa menghadapi kendala sehingga mengalami kesulitan untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian yang digarapnya.
Salah satu kendala yang biasa dihadapi para petani di pedesaan adalah kesulitan mendapatkan sumber air ketika musim kemarau tiba. Banyak areal pertanian yang mengalami kekeringan. Kondisi ini menyebabkan kegagalan panen yang dialami para petani karena areal pertanian yang mereka miliki merupakan areal tadah hujan.
Masalah kekeringan ini biasa dialami oleh para petani di Desa Sukamerang, Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut. Keterbatasan sumber air menjadi problematika yang kerap dialami setiap kemarau tiba. Para petani tidak bisa mengairi areal sawahnya karena kondisi geografis yang tidak mendukung. Akibatnya, penduduk harus menunda masa tanam padi sampai hujan kembali turun.
Lahan-lahan pertanian yang seyogyanya ditanami malah menjadi lahan tidur dimana lahan tidak produktif dan dibiarkan begitu saja. Produktifitas petani yang berhenti turut berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Banyak orang yang menganggur karena tidak ada lahan yang bisa digarap. Pendapatan masyarakat pun otomatis menurun seiring terhentinya produktifitas pertanian.
Sumber Air Bersih
Kekeringan yang sering melanda desa Sukamerang juga turut mempengaruhi ketersediaan air bersih. Ketika kemarau tiba, banyak masyarakat yang kekurangan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. Air sebagai salah satu komponen kehidupan seakan menjadi barang mahal karena penduduk harus mendapatkannya dari tempat jauh. Sumur-sumur yang dimiliki penduduk pun cenderung kering karena air sudah tidak tersedia lagi di tanah. Bahkan, masjid sebagai sarana umum harus mendatangkan air dari tempat jauh untuk keperluan ibadah.
Ketersediaan air bersih ini dirasa penting karena berpengaruh pada kondisi kesehatan dan produktifitas masyarakat. Ketika masyarakat mudah mendapatkan air bersih maka diharapkan masyarakat bisa berkonsentrasi untuk melakukan aktifitas lain. Jika kemarau tiba, penduduk memiliki tambahan pekerjaan yakni menyediakan air bersih untuk keluarga.
Meningkatkan Potensi Ekonomi
Ketersediaan air di desa Sukamerang diharapkan dapat meningkatkan potensi ekonomi masyarakat. Potensi pertanian yang menjadi andalan pendapatan masyarakat dapat tergali karena salah satu penunjang utamanya yakni air sudah tersedia. Ketika pertanian sudah dapat berjalan maka diharapkan dapat merangsang potensi lain seperti peternakan.
Peternakan rakyat yang ada di desa Sukamerang terdiri dari domba, sapi, ayam dan kerbau. Ternak-ternak tersebut belum dikelola dengan optimal sehingga tidak bisa menjadi sumber pendapatan andalan masyarakat. Sumber pakan ternak yang tersedia belum mencukupi karena banyak lahan yang kering dan tidak termanfaatkan.
Akibat dari kondisi tersebut, banyak penduduk yang melakukan urbanisasi untuk mencari pendapatan. Dengan begitu, potensi ekonomi pedesaan pun belum tergali secara maksimal. Padahal, masih banyak potensi yang bisa dimanfaatkan masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sumber Air sebagai Komponen Utama
Memperhatikan kondisi diatas maka perlu adanya proyek yang berkonsentrasi pada penyediaan air sebagai komponen utama kehidupan masyarakat desa Sukamerang. Proyek tersebut berorientasi sosial sehingga tidak mengharapkan keuntungan finansial sebagai hasil ketika proyek tersebut sudah berjalan. Diharapkan ada pihak yang sanggup mendukung proyek tersebut baik secara moril maupun materil.
Proyek ini merupakan proyek jangka panjang dimana akan senantiasa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Semoga saja akan didapat manfaat yang sangat besar ketika proyek ini sudah berjalan.

Fenomena alam ini telah memberikan dampak yang signifikan bagi persediaan beras nasional. Tiga tahun lalu, badai El Nino yang cukup parah di Indonesia telah mengakibatkan sekitar 50 ribu hektare lahan mengalami puso atau gagal panen (Media Indonesia, 22/7/2009). Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, dalam 10 tahun terkahir dampak terberat El Nino terjadi pada 1997-1998. Untuk 2009, Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian (Deptan) Sutarto Alimoeso mengatakan daerah-daerah rawan badai itu adalah daerah yang pengairannya tidak terjamin seperti Indramayu dan Cirebon. Dalam sepekan saja, sekitar 40 ribu hektare lahan persawahan di Jawa Barat mengalami puso dan gagal panen. Tanaman padi yang terkena kekeringan ataupun gagal panen rata-rata berumur 30-40 hari yakni sudah siap panen.
enduduk yang banyak tetapi terjadi pula di pedesaan. Kondisi yang dilematis ketika usia angkatan kerja yang seharusnya produktif tidak dapat mengapresiasikan potensinya karena sempitnya lapangan kerja yang tersedia.
Ketika membaca headline PR edisi kamis (2/4/2009) yang berjudul Peternakan Terpukul penulis sudah memprediksinya sejak awal. Pekiraan ini muncul ketika membaca PR edisi sabtu (21/3/2009) dimana beberapa pakar menanggapi kebijakan perpanjangan impor dari Australia dan New Zealand. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa kebijakan perpanjangan impor produk peternakan ini harus diikuti dengan pemberian subsidi kepada peternak terutama sektor budidaya yang banyak mengalami kendala. Bahkan ada yang berpendapat bahwa pemerintah provinsi harus menyediakan dana untuk membeli susu dari peternakan rakyat dan diberikan kepada anak sekolah untuk memperbaiki gizi mereka.