Oleh: muhammadyusufansori | Januari 21, 2010

Inspirasi dari Kebun Sayur Ibu Negara

Di dunia ini ada banyak hal sederhana yang sudah dilupakan orang. Padahal hal sederhana itu bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika dilakukan oleh banyak orang. Salah satunya adalah bercocok tanam di pekarangan rumah kita. Dengan bercocok tanam, minimal ada tambahan pangan yang bisa dikonsumsi setiap hari. Selain sehat, juga menguntungkan secara ekonomi.

Bagi ibu negara Amerika Serikat Michelle Obama, kebunnya di Gedung Putih bukan sekadar lahan bercocok tanam untuk menghabiskan waktu luang. Kebun itu merupakan panggung baginya untuk menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya makanan sehat.

Dari kebun di bagian selatan kantor presiden AS itu, Michelle berbicara antara lain tentang masalah kegemukan yang melanda anak-anak di Negeri Paman Sam itu, mengampanyekan pentingnya makan makanan segar dan mengajarkan anak-anak untuk menghargai sayur-mayur sejak dini. Lewat kebun itu juga ia menghilangkan keangkeran Gedung Putih. Ia mengundang orang-orang biasa untuk menjamahnya.

Para pembantunya mengatakan kebun tersebut telah memberi hasil di luar dugaan. Kebun yang ditanami aneka jenis sayur-mayur seperti bayam, kubis, dan wortel dengan bantuan murid-murid sekolah beberapa waktu lalu itu kini telah tumbuh subur.

Ibu-ibu negara sahabat yang bertemu dengannya bisa dipastikan akan menanyakan kebun itu. Hasil kebun juga telah dinikmati pegawai-pegawai Gedung Putih dan tetangga sekitarnya. Tak hanya itu, tangan dingin sang ibu negara telah menginspirasi warga AS untuk berkebun.

Saat Michelle mengunjungi program televisi anak-anak Scsame Street baru-baru ini untuk membantu Elmo, tokoh program tersebut, menanam benih sayuran, Big Bird bertanya apakah benar ia memakan benih tersebut Sang ibu negara menjawab, “Saya memakan apa saja yang tumbuh dari benih tanaman.”

Ia mendorong anak-anak untuk menghabiskan sayuran mereka. “Jika kaban memakannya, kalian akan tubuh besar dan kuat seperti saya,” ujarnya.

Karena terinspirasi oleh kebun tersebut, sebuah acara kuliner berjudul Iron Che/ America, seri televisi yang dibuat berdasarkan acara televisi jepang Iron Chef, pun digelar

Acara itu menampilkan adu keahlian memasak antara juru masak Gedung Putih Crislela Comer-ford dan Bobby Flay melawan dua juru masak top Amerika Mario Batali dan Emeril Lagasse. Mereka diwajibkan memakai semua bahan yang ada di kebun tersebut. Juru masak Gedung Putih akhirnya memenangi acara tersebut.

Kebun seluas 102 meter persegi itu telah menghasilkan lebih dari 455 kilogram kentang, tomat, terong, brokoli, dan sayur-mayur serta tumbuhan lainnya. Para juru masak memanfaatkan hasil kebun tersebut untuk jamuan makan Presiden Barack Obama sekeluarga dan tamu-tamu yang datang.

Di kebun itu juga terdapat sarang lebah yang telah menghasilkan madu. Michelle kerap menjadikannya cendera mata bagi pasangan pemimpin dunia yang berkunjung ke Gedung Putih. (Hde/AP/ ) (http://bataviase.co.id/node/47791)

Ide sederhana dari Michelle Obama patut ditiru oleh Ibu-ibu di seluruh dunia. Menanam sayuran di pekarangan rumah harus menjadi budaya di setiap negara. Kekurangan pangan yang selama ini terjadi bisa jadi karena begitu banyak orang yang malas untuk bercocok tanam. Semestinya kita malu pada Ibu Negara AS tersebut, karena dia tidak segan-segan untuk mengaduk-ngaduk tanah demi kelangsungan generasi masa depan.

Upaya sederhana ini benar-benar prilaku cerdas. Wajar jika Amerika menjadi negara adidaya.

Oleh: muhammadyusufansori | Januari 13, 2010

Harga Gula Naik

Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah hingga sekarang belum berusaha untuk menstabilkan harga gula yang terus merambat naik. Padahal dampak kenaikan sudah sangat dirasakan para pengusaha kecil. Pedagang dan konsumen sangat berharap ada tindakan segera dari pemerintah karena kenaikkan gula kali ini cukup besar dan merata di beberapa daerah di Indonesia.

Pantauan SCTV, Sabtu (9/1), harga gula di beberapa daerah terus naik. Di Bandung, Jawa Barat, pedagang dan pembeli sama-sama mengeluh akibat kenaikan. Kini di pasaran harga gula mencapai Rp 11.000 hingga Rp 12.000 per kilogram.

Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, harga gula jauh lebih tinggi daripada di Jawa, yakni di atas Rp 12.000 per kilogram, padahal biasanya hanya tujuh ribu rupiah. Untuk menekan harga di pasaran, Dinas Perdagangan menggelar operasi pasar. Sampai saat ini Dinas Perdagangan tidak mengetahui penyebab harga gula naik cukup tinggi. Gula mahal juga terjadi di Surabaya, Jawa Timur

Oleh: muhammadyusufansori | Januari 8, 2010

Selamat Datang Produk Cina

Diterbitkan oleh Tribun Jabar edisi 6 Januari 2010

Pergantian tahun merupakan kebahagiaan bagi sebagian orang tetapi juga bisa menjadi ‘ketakutan’ bagi yang lain. Sudah menjadi tradisi, banyak orang yang menyambut tahun baru dengan sukacita. Di jalan-jalan, pusat perbelanjaan, alun-alun kota ataupun di rumah masyarakat rela tidak tidur semalaman untuk menanti detik-detik pergantian tahun. Namun, sadarkah kita bahwa ternyata banyak yang menanti detik-detik pergantian tahun dengan rasa khawatir.

Perdagangan Bebas yang Merugikan

Rasa khawatir itu cukup beralasan karena di 2010 kita akan dibanjiri produk-produk dari negeri China. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, alat elektronik hingga bahan bangunan akan mudah dijumpai di pasaran dalam negeri. Kenapa ini menjadi kekhawatiran?

Membanjirnya produk China menjadi semacam serangan ‘rudal’ bagi masyarakat karena kita sulit untuk menepisnya. Bahan-bahan kebutuhan dasar yang seyogyanya diproduksi di dalam negeri, nanti akan senantiasa bergantung pada produk impor. Baju, celana dan sepatu yang kita pakai bisa jadi bukan dari Cibaduyut atau Rancaekek tetapi sudah berlabelkan ‘Made in China’. Konsumen memang tidak terlalu dirugikan, tetapi tengoklah para pengusaha yang biasa menyuplai kebutuhan kita?

Pengusaha yang dimaksud bukan hanya pengusaha dengan omzet jutaan bahkan milyaran rupiah tetapi juga berimbas pada kemandegan atau kemunduran usaha kecil. Sebagai contoh,  produsen kulit lokal yang biasa membuat produk pakaian berbahan kulit akan mengalami kekalahan persaingan di negerinya sendiri. Kekalahan itu diakibatkan oleh membanjirnya produk berbahan kulit dari China yang ditaksir berharga murah. Logikanya, konsumen akan cenderung memilih produk murah dan ‘melupakan’ produk berbahan kulit yang cukup mahal.

Jika pengusaha kulit mengalami penurunan penjualan maka secara otomatis akan terjadi penurunan produksi bahkan berhenti sama sekali. Efeknya akan merembat pada jumlah kulit mentah yang biasa dibeli dari peternak. Peternak pun mengalami kerugian. Lebih parah lagi, ketika suatu perusahaan gulung tikar akan ada berapa orang karyawan yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Kualitas dan harga yang ditawarkan oleh produk China memang sulit diimbangi oleh produk dalam negeri. Fasilitas produksi yang efektif dan efisien di China membuat produk China lebih murah dibandingkan apa yang biasa kita beli dari pengusaha lokal. Kondisi ini bisa mengubah tren konsumen yang setia pada produk pribumi  menjadi berpaling muka dan melirik produk China.

Awal dari kemelut ini adalah berlakunya perjanjian perdagangan bebas antara negara-negara anggota ASEAN dengan China. Free Trade Agreement ASEAN-China (FTA-AC) akan berlaku pada 1 Januari 2010 setelah disepakati pada 2004. Perjanjian perdagangan ini jelas merugikan pihak Indonesia karena nilai ekspor Indonesia ke China tidak sebanding dengan nilai ekspor China ke Indonesia, begitupun sebaliknya. Menurut para ahli, nilai ekspor kita hanya naik 2,29 % menjadi 8,20 %. Tapi, sebaliknya impor kita dari China bakal naik 2,81 % ,menjadi 11,37 %.

Kenyataannya, pihak Indonesia belum siap menghadapi serbuan produk China sehingga dikhawatirkan rawan terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh perusahaan yang kolaps dapat meningkatkan jumlah pengangguran. Ledakan pengangguran ini berkibat fatal pada daya beli masyarakat sehingga ada kemungkinan masyarakat cenderung memilih produk murah dari China karena kecilnya pendapatan yang mereka miliki.

Belilah Pangan Produk Negeri Sendiri

Perjanjian sudah ditanda tangani, sekarang kita hanya bisa menyambut produk China dengan hati sedih. Untuk barang elektronik dan kendaraan bermotor, kita bisa maklumi karena belum mampu untuk memproduksinya. Namun, apakah kita masih bertoleransi dengan produk pangan impor yang nanti kita makan?

Konsumen adalah pihak terakhir yang menjadi labuhan produk-produk tersebut. Kita diuji, sejauh mana kesetiaan kita pada produk lokal yang selama ini didengung-dengungkan banyak pihak. Konsumen adalah raja yang menentukan suatu produk dijual atau tidak. Meskipun dengan harga murah, jika konsumen tidak suka kenapa harus dijual. Logika seperti inilah yang harus ada pada diri kita.

Proteksi perdagangan oleh pemerintah adalah sesuatu yang tidak mungkin karena negara ini akan dianggap mengkhianati perjanjian. Meskipun sertifikasi produk halal akan dilakukan MUI, belum tentu bisa membendung produk pangan yang akan membanjiri ‘rumah kita’. Bisa saja, China mengekspor produk halal ke Indonesia, karena mereka pun tahu sebagian besar konsumen Indonesia adalah muslim. Strategi ini sudah dilakukan Australia ketika mengekspor daging sapi ke Indonesia. Daging dari Australia tetap laku  karena sudah ada sertikat halalnya. Imbasnya, peternakan lokal menjadi sulit berkembang.

Sudah saatnya kita merubah gaya hidup kita yang serba instan. Membeli makanan kemasan supaya cepat disajikan adalah sikap yang sudah harus dijauhi. Alangkah lebih baik kita memakan pangan hasil bumi negeri sendiri. Dengan begitu, akan ada banyak orang yang tertolong oleh kita seperti petani, peternak, nelayan, pedagang pasar tradisional dan masih banyak lagi orang merasakan manfaat atas apa yang kita lakukan.

Konsumen adalah penentu perdagangan dunia, bukan produsen. Keputusan ada ditangan kita. Masalahnya, siapkah kita melawan ‘serangan’ ini?

Oleh: muhammadyusufansori | Desember 30, 2009

Waspada Produk China Ditahun Baru

Tahun 2010 telah kita jelang. Tahun ini diprediksi sebagai tahun perubahan menuju arah yang lebih ’sulit’. Kesulitan yang dimaksud adalah dengan datangnya produk-produk China dimana akan terjadi persaingan ketat dengan produk lokal. Banyak pengusaha yang khawatir karena akan kalah bersaing.

Sebuah persaingan adalah hal wajar. Namun, persaingan yang tidak seimbang sudah pasti dapat diprediksi siapa yang kalah dan yang menang. Pengusaha makanan, minuman, petani, peternak, pakaian dan masih banyak lagi subsektor ekonomi yang kehilangan pangsa pasar mereka karena tergantikan oleh produk China yang harganya lebih murah.

Ekspansi China ini adalah hal yang wajar di era globalisasi seperti sekarang ini. Tinggal, sejauh mana kesiapan kita menghadapi segala akibat yang bakal terjadi. Diprediksi, pengangguran akan kembali meningkat karena banyak pengusaha yang gulung tikar. Karyawan akan  banyak yang jadi ‘tumbal’. Ketika pengangguran meningkat maka daya beli masyarakat pun jadi menurun. Imbasnya, masyarakat cenderung memilih produk China yang murah. Lalu, kemana produk lokal larinya?

Kewaspadaan harus ditingkatkan mengingat akan ada banyak kemungkinan yang terjadi. Kita harus malu jadi bangsa Indonesia (kata Taufik Ismail juga gitu kan…) karena jadi pembeli di warung sendiri. Keuletan, kemandirian dan kecerdasan orang China dalam berdagang harus kita tiru juga. Di Media Indonesia edisi Rabu, 29 Desember 2009 Zong Shan Wakil Menteri Perdagangan China menyatakan bahwa, ” Lebih baik menjual 20 juta kemeja daripada menjual Boeing 747. Dengan menjual kemeja kita bisa mempekerjakan 10.000 tenaga kerja yang dapat mensejahterkan 30.000 orang China.”

Masalahnya, kita sebagai pribumi masih males-malesan mengerjakan hal-hal yang kecil tapi sudah berpikir besar. Kita nggak rajin menaman lobak tapi kita malah beli dari pasar. Ingat, lobak pun sudah impor lho! Gengsian, nggak mau susah, maunya instant melulu sudah jadi kebiasaan umum orang di negeri ini. Padahal China mengeskpor peniti hingga mobil!

Oleh: muhammadyusufansori | Desember 24, 2009

Monster Perdagangan Bebas

Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara Asia, disamping Cina dan India, yang tetap tumbuh positif saat negara-negara lain terpuruk akibat krisis finansial global. Prestasi ini telah membuat pemerintah sangat optimistis menghadapi masa depan ekonomi Indonesia. Namun, optimisme pemerintah ternyata sangat berbeda dengan para pengusaha yang justru sangat pesimis.
Salah satu contohnya, kekhawatiran para pengusaha menghadapi era pasar bebas ASEAN-China. Padahal, pemerintah yakin ASEAN-China Free trade Agreement (AC-FTA) akan dapat diberlakukan pada awal Januari 2010. Alih-alih mendukung dengan rencana bisnis, para pengusaha justru semakin gencar membeberkan pesimisme dan prediksi kesuraman usahanya bila dipaksa untuk memasuki pasar bebas dengan China. Ini menunjukkan bahwa ekonomi bertahan tumbuh positif bukan mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi dan daya saing produk Indonesia. Faktanya, para pengusaha sangat yakin produk nasional akan dilibas produk-produk asal China yang sangat kompetitif, bila kesepakatan perdagangan bebas AC-FTA tetap dilanjutkan.

Absennya Strategi
Rendahnya daya saing produk industri Indonesia tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Demikian juga sebaliknya, keberhasilan produk China menjadi produk paling kompetitif di dunia, juga tidak mungkin diraih begitu saja. Banyak faktor yang menentukan tinggi rendahnya daya saing. Salah satunya adalah peran dari strategi perdagangan dan industri. Strategi yang jelas akan menjadi referensi bagi kebijakan pendukung di berbagai sektor. Dapat kata lain, tanpa strategi industri dan perdagangan, suatu negara tidak akan mungkin membangun industri yang kompetitif dan produktif.
Untuk mewujudkan China sebagai pusat industri dunia, pemerintah China memilih untuk memprioritaskan penyediaan listrik murah. Listrik diyakini ini akan menjadi faktor penting untuk mencipatakn daya saing dan menarik investasi. Karenanya China memilih untuk memanfaatkan batubara yang melimpah sebagai modal untuk mewujudkan listrik murah. Strategi industri China tidak memilih untuk memanfaatkan batubara dari penerimaan ekspor. Demikian juga pilihan untuk mengolah timah dan tidak menjadikan timah mentah sebagai komoditas ekspor, didasarkan pada visi dan strategi China untuk membangun struktur industri elektronik yang deep dan kompetitif.
Pertimbangan yang sama dilakukan saat mentukan kebijakan keuangan. Kegigihan China untuk tetap menjaga nilai tukar yang lemah, dilakukan sesuai strategi untuk menjaga daya saing produk industri. Strategi liberalisasi sekor keuangan yang lamban juga dipilih untuk mendukung industri karena volatilitas nilai tukar dan inflasi terjaga sangat penting untuk membangun daya saing industri.
Bahkan saat krisis, langkah China membantu negara lain baik lewat special credit facility, yang memberikan kemudahan pembayaran bagi para importir, dilakukan untuk menjaga permintaan produk China. Sedangkan bilateral currency-swap agreement yang ditawarkan, juga dikaitkan dengan strategi industrinya. Peningkatan perdagangan dan investasi lewat program ini akan ditujukan untuk menjamin kebutuhan energi dan bahan baku bagi industrinya.
Bisa dipahami, absennya strategi industri di Indonesia akan memporak-porandakan arah kebijakan ekonomi nasional dan menekan daya saing industri. Rendahnya daya tarik industri manufaktur, antara lain akibat kegagalan PLN dalam menjaga pasokan listrik dan tingkat harga. Ironisnya, tingginya biaya produksi terjadi karena PLN tidak mendapat dukungan pasokan energi murah baik batubara maupun gas dari pemerintah. Padahal Indonesia memiliki kekayaan energi alam yang tidak kalah dibanding China. Tetapi pemerintah Indonesia memilih menjadikan batubara dan gas sebagai komoditas ekspor, bukan modal untuk membangun industri.
Tidak hanya sumber daya alam energi, pilihan untuk mengekspor berbagai bahan mentah, disbanding membangun industri pengolahan, telah menciptakan stuktur industri nasional dangkal. Berbeda dengan strategi China dalam pembangunan industri elekronika yang terintegrasi mulai dari pembangunan industri pendukung dengan mengolah bahan baku. Indonesia hanya memiliki industri perakitan (hulu) untuk produk elektronika. Produksi timah yang merupakan terbesar kedua setelah China, dibiarkan untuk diolah di negara lain.
Kebijakan Indonesia untuk memilih nilai tukar rupiah yang kuat juga telah menggerus daya saing berbagai produk ekspor. Tanpa strategi industri, pilihan kebijakan fiskal dan moneter akhirnya memang tidak terarah dan akhirnya lebih menguntungkan sektor keuangan, dibanding sektor riil. Dampak absennya strategi industri ternyata telah memunculkan berbagai kebijakan yang justru kontraproduktif terhadap upaya meningkatkan daya saing industri.
Selama pemerintahan SBY, semestinya konsep strategi industri dan perdagangan dapat diwujudkan. Namun, pilihan melakukan percepatan liberalisasi telah mengakibatkan RUU Pengembangan Industri dan RUU Perdagangan terparkir selama lima tahun di DPR.

Terlalu agresif
Keterpurukan industri nasional menjadi semakin dalam saat pemerintah semakin agresif melakukan liberalisasi. Tidak berlebihan bila dikatakan liberalisasi ekonomi Indonesia adalah liberalisasi ugal-ugalan. Bagaimana tidak? Berbagai kesepakatan perdagangan bebas telah dibuat tanpa landasan strategi industri dan perdagangan. Bak seorang sopir yang melaju kencang tanpa rambu-rambu. Tidak tahu dimana harus berhenti untuk memeriksa mesin dan kapan harus mengurangi kecepatan saat melewati jalan yang licin. Yang sangat ironis tidak dapat membayangkan bahaya apa yang akan dihadapi.
ASEAN-China FTA hanyalah salah satu bentuk kerjasama liberalisasi ekonomi yang banyak dilakukan Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir. Liberalisasi ekonomi yang dimulai pada tahun 1980an dengan meliberalisasi sektor keuangan, semakin kencang dilakukan sejak krisis 1997/98. Berbagai persyaratan liberalisasi yang tertuang dalam Letter of Intent antara Indonesia dan IMF, telah memporakporandakan struktur ekonomi Indonesia. Bila tahun 2003 Menteri Keuangan Boediono mematuhi tap MPR untuk menghentikan kerjasama dengan IMF, maka kerusakan struktur ekonomi Indonesia semestinya dapat direm. Sayangnya, Boediono justru memperpanjang kerjasama dengan IMF hingga 2005.
Bahkan, berbagai kerjasama ekonomi juga semakin giat dilakukan tidak hanya lewat ASEAN, seperti kesepakatan ASEAN-China, Korea, Jepang, Australia, New Zealand dan India. Tetapi juga secara pro-aktif melakukan kerjasama bilateral, seperti perjanjian dengan Amerika, Hungaria, Hongkong dll. Bahkan dengan China dan Jepang selain kerjasama lewat ASEAN, Indonesia juga membuat kesepakatan liberalisasi perdagangan secara bilateral.
Kesepakatan perdagangan bebas yang sangat kencang ini telah menghasilkan tarif bea masuk di Indonesia menjadi paling rendah dibanding negara-negara ASEAN lain. Berdasarkan data ITC tahun 2007, tarif rata-rata produk pertanian untuk Vietnam masih 20%, India 28%, Thailand 21%, tetapi di Indonesia hanya 4,8%. Sedangkan untuk makanan dan minuman, di Vietnam, India, Thailand sebesar 36,5%, 34% dan 23% , namun di Indonesia hanya 10,2%. Tidak heran bila impor Indonesia untuk produk pertanian dan makanan tumbuh tinggi. Hal yang sama terjadi pada produk berteknologi tinggi seperti elektronika. Meskipun India dan China jauh lebih kompetitif, tetapi tarif bea masuk rata-rata di Indonesia lebih rendah.
Liberalisasi yang dilakukan Indonesia telah semakin maju lewat kerjasama Economic Partnership Agreement (EPA). Kerjasama ekonomi bilateral dalam format EPA akan memiliki konsekwensi kebijakan yang jauh lebih luas dibanding format FTA. Tidak hanya kesepakatan perdagangan bebas tetapi juga investasi bebas. Pengalaman negara-negara Afrika dalam kerjasama EPA dengan Eropa yang membawa konsekwensi pada hilangnya kesempatan pemerintah untuk melindungi pelaku ekonomi kecil, menjadi salah satu contoh dampak negatif EPA bagi negara berkembang.
Dampak EPA bagi Indonesia juga sudah mulai dirasakan. Dalam EPA Indonesia-Jepang, pihak Indonesia menyepakati untuk memenuhi kebutuhan gas Jepang. Perjanjian ini tentu akan menyulitkan pemerintah Indonesia dalam membangun daya saing industri nasional. Meskipun saat ini kebutuhan energi dalam negeri belum terpenuhi, tetapi pemerintah tidak bisa menyelesaikan masalah ini tanpa melakukan koreksi terhadap kesepakatan EPA.
Tuntutan para pengusaha untuk menunda pelaksanaan ASEAN-China FTA, harus menjadi perhatian pemerintah SBY. Memang bukan pekerjaan mudah karena ada konsekwensi berat bagi pemerintah Indonesia. Namun, tim ekonomi SBY harus membayar mahal kesalahan kebijakannya selama lima tahun yang telah menjadikan perjanjian pasar bebas dengan China menjadi monster yang menyeramkan.

Oleh: Hendri Saparini, Ekonom ECONIT

Oleh: muhammadyusufansori | Desember 11, 2009

Harga Pupuk Naik April 2010, Bagaimana Jadinya?

Lagi, harga pupuk kembali akan mengalami kenaikan harga mulai april tahun depan. Kenaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk terjadi karena adanya pemangkasan subsidi pupuk dari Rp. 17, 5 triliun menjadi Rp. 11, 3 triliun. Sebelum diberlakukannya kenaikan harga pupuk maka pemerintah  melalui Menteri Pertanian akan menaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) dari petani.

Nantinya, akan ada banyak pihak yang dirugikan dan juga diuntungkan oleh kenaikan harga pupuk ini. Pihak yang dirugikan tentu saja para petani yang masih setia dengan pupuk kimia buatan. Ketergantungan petani akan pupuk dari pabrik menjadi kendala tersendiri dalam memenuhi biaya produksi padi dalam negeri. Saat ini saja, masih banyak petani yang kebingungan dengan harga pupuk yang ada karena tidak semua padi dari petani terus dijual ke pemerintah, dalam hal ini adalah Bulog sebagai distributor beras nasional.

Jika dilihat secara sepintas, kebijakan ini terlihat adil karena Pemerintah menaikan harga beli gabah dari petani. Tetapi, saya pikir ini hanyalah strategi pemerintah untuk terus-menerus mengurangi beban subsidi pertanian yang  dinilai sangat penting. Untuk Bank Century Rp. 6,7 triliun bisa, kenapa untuk pertanian terus dikurangi? Padahal subsidi sektor produksi lebih menolong petani daripada subsidi langsung seperti pembelian gabah oleh pemerintah.

Subsidi Penunjang Produksi Lebih Penting

Subsidi sektor penunjang produksi dapat dirasakan oleh banyak petani, sekalipun gabahnya tidak dijual. Ingat, banyak petani lokal yang memanfaatkan hasil panennya untuk memenuhi pangan keluarga. Apakah petani seperti ini bisa menikmati harga gabah yang tinggi?

Kenaikan harga komoditas saat ini seperti bola liar yang sulit dikendalikan. Jika harga pupuk tinggi, maka kesetabilan harga belum bisa terjamin. Masih banyak distributor yang berani mempermainkan harga. Kelangkaan bisa saja terjadi dengan alasan kenaikan harga. Banyak kemungkinan bisa terjadi, tinggal kesiapan kita untuk menghadapinya.

Agenda pengurangan subsidi pertanian yang digagas Pemerintah bisa jadi adalah buah kesepakatan dengan lembaga keuangan internasional seperti IMF (International Monetery Fund) dan Bank Dunia. Utang luar negeri yang dimiliki Indonesia begitu besar, sehingga sangat mudah negeri ini dikendalikan oleh lembaga-lembaga keuangan tersebut.

Kekhawatiran lain ketika subsidi pertanian dipangkas adalah naiknya harga komoditas pertanian lokal. Pada 2010 nanti telah diberlakukan perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dengan Cina. Daya saing rendah yang dimiliki petani kita tidak dapat membentengi membanjirnya produk pertanian dari Cina seperti buah-buahan, sayuran dan produk pangan lainnya.

Efek dari kenaikan pupuk ini bukan hanya padi yang terkena imbasnya. Akan ada banyak produk pertanian yang mengalami kenaikan harga dan secara otomatis bisa terlibas oleh produk impor yang biasanya harganya lebih murah. Bisa jadi pemerintah Cina meningkatkan subsidi pertanian mereka untuk menekan ongkos produksi sedangkan pemerintah Indonesia melakukan hal yang sebaliknya.

Mentan Cuci Tangan

Menanggapi membanjirnya produk pertanian impor, Menteri Pertanian Suswono seakan cuci tangan dengan mengatakan bahwa kebijakan impor ada pada Menteri Perdagangan. Padahal, jika Mentan benar-benar membela petani nasional, dia harus bersikap tegas dan mempertaruhkan  jabatannya demi sebuah kebijakan yang propetani. Proteksi yang diusulkan Mentan itu hanyalah opini usang yang sulit dilakukan. Berbagai perjanjian perdagangan yang telah ditandatangani tidak bisa mengubah kondisi di lapangan.

Proteksi produk impor hanyalah upaya untuk memperlemah posisi Indonesia di kancah perdagangan internasional. Jika produk impor diproteksi, maka bisa saja negara pengekspor juga memproteksi produk Indonesia yang masuk ke negaranya. Lagipula, proteksi seperti apa yang diusulkan Mentan?

Kemandirian Petani

Sejak lama petani lokal senantiasa menggunakan pupuk buatan untuk meningkatkan hasil panennya. Sudah saatnya kita berlaih ke pupuk alami yang lebih murah dan ramah lingkungan. Jerat ‘pupuk buatan’ ini sudah menjadi alat politisasi petani sehingga petani semakin terpuruk.

Petani lebih dituntut untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhannya. Kita sudah tidak bisa berharap lagi pada Pemerintah  dalam hal penyediaan sara penunjang poduksi. Orang yang bisa kita harapkan adalah para konsumen yang masih setia memakan nasi dan lauknya dari petani lokal.

Oleh: muhammadyusufansori | Desember 4, 2009

Melawan Hegemoni WTO

Isu perdagangan bebas memang menjadi isu hangat dunia yang dimana efeknya tidak disadari oleh banyak orang. Perekenomian global yang sulit  difahami membuat orang enggan memperhatikan berbagai upaya WTO (World Trade Organization) dalam mengendalikan perekonomian dunia. Secara tersirat, kita dapat melihat kelicikan negara-negara maju ketika mereka menyerang banyak negara dunia ketiga dengan berbagai produk impor yang membanjiri hampir disetiap negara.

Dunia Tani  mengajak kita untuk setidaknya mengetahui apa yang sedang terjadi sehingga kita bisa berbuat _sedikit atau banyak_ untuk membentengi diri dan lingkungan kita dari kejamnya ‘perdagangan bebas’. Apakah kita menyadari bahwa kenaikan harga gula, telur, susu, daging dan berbagai produk yang kita konsumsi adalah ulah dari organisasi yang namanya WTO? Terkadang kita banyak menyalahkan pemerintah atas tekanan hidup yang kita alami. Tapi, saat ini kita bisa berbuat sebagai upaya kita untuk keluar dari ketergantungan dunia luar!

Sikap masyarakat kita yang serba menggantungkan diri pada dunia luar adalah hal yang harus dievaluasi bahkan dihilangkan sama sekali. Maksudnya, kita bisa memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus menggunakan produk impor dimana harganya senantiasa dikendalikan negara pengekspor. Pernahkan terpikir dalam benak kita untuk memakan telur, daging, susu, jagung atau kedelai hasil dari saudara-saudara kita para petani di Nusantara?

Dunia Tani lebih memfokuskan ajakan pada konsumsi bahan pangan karena semua itu ternyata dapat kita lakukan. Biarlah barang elektronik masih menggunakan barang impor, toh karena kita belum mampu produksi. Tapi, masa makan nasi aja harus pakai padi yang ditanam di Thailand? Makan daging dari Australia atau minum susu dari New Zeland?

Kemandirian pangan yang selama ini didengungkan banyak kalangan hanya akan jadi isapan jempol belaka ketika masih banyak orang yang enggan mengelola tanahnya untuk makan keluarganya di kemudian hari. Kata kuncinya, sejauh mana kita mau berbuat _sekecil apa pun_ untuk menyediakan pangan. Ingat, bukan hanya biaya dan teknologi yang kita perlukan tapi tunjangan sumberdaya manusia adalah yang utama.

Perlawanan terhadap hegemoni pangan dunia tidak harus senantiasa lewat meja perundingan. Ketika sebuah perundingan tidak mencapai kata sepakat, maka sikap mandiri juga merupakan sebuah perlawanan. Dunia Tani punya keyakinan bahwa konsumsi dalam negeri menjadi ujung tombak untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Coba bayangkan, peternak sapi perah akan lebih rajin bekerja ketika produk susu mereka dibeli oleh tetangganya. Selama ini, penurunan terjadi karena peternak sudah bosan memeras susu lantaran kalah bersaing dengan susu impor.

Perdagangan bebas menjadi perangkap bagi setiap individu di dunia ketika mereka sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidupnya. Perangkap itu bisa kita hindari ketika kita tidak mengikuti jalan yang ‘ditunjukan’ oleh WTO. Jalan itu adalah kebiasaan kita membeli produk impor.

Petani Jadi Tumbal WTO

Tiga hari belakangan (30 Nopember-2 Desember 2009) telah terjadi pertemuan para Menteri Perdagangan negara 153 negara anggota WTO. Pertemuan itu diwarnai demontrasi dari pihak yang beranggapan bahwa WTO merugikan para petani di banyak negara. Banyak petani miskin yang ‘dijajah’ oleh kebijakan perdagangan WTO. Para Petani yang mengolah lahan mereka hanya jadi tumbal karena produk mereka tergilas oleh produk impor yang jauh lebih murah.

Murahnya harga produk impor karena negara pengekspor memberikan subsidi yang besar terhadap barang pertaniannya, sedangkan negara-negara miskin tidak mampu memberikan subsidi kepada para petaninya. Banyak negara importir yang tidak bisa menahan laju ekspor pangan karena adanya ketergantungan yang tinggi akan produk-produk pangan tertentu.

Ketika melihat kondisi seperti ini, apakah kita masih berdiam diri?

Oleh: muhammadyusufansori | Desember 1, 2009

Isu Pertanian dalam Konferensi WTO di Jenewa

Mari sejenak mengalihkan perhatian kita ke Jenewa, Swiss dimana disana sedang digelar Konferensi Tingkat Menteri dari 153 negara anggota World Trade Organization (WTO) sejak 30 November – 2 Desember 2009. Salah satu isu penting yang senantiasa hangat untuk diperbincangkan adalah isu pertanian. Kehangatan isu ini sempat mengundang protes para aktivis di Swiss. Mereka beranggapan bahwa WTO telah mengeluarkan ‘kebijakan’ perdagangan yang telah menciptakan kemiskinan di negara-negara kaya dan miskin dengan memeras para petani.

Isu pertanian dalam setiap konferensi WTO menjadi isu sentral yang diusulkan oleh negara-negara berkembang _termasuk Indonesia_. Berikut ini kronologi isu-isu sentral dimana menjadi bahan perbincangan yang tidak kunjung mendapatkan titik temu.

November 2001 : Para anggota WTO bertemu di Qatar menyepakati pembicaraan multilateral pada Putaran Doha dengan penekanan pada pembangunan dan pembukaan pasar dalam pertanian, manufaktur serta jasa. Mereka menetapkan target pelaksanaan pada 1 Januari 2005.

Januari 2002 : Awal yang menjanjikan dengan cepatnya pemilihan Dirjen untuk memimpin negosiasi antarkelompok di Jenewa, markas WTO.

Maret 2003 : Negara-negara anggota WTO gagal memenuhi tenggat waktu untuk memutuskan formula tarif pertanian, dukungan domestik dan subsidi ekspor. Hal yang sama juga terjadi untuk sektor manufaktur dan jasa.

September 2003 : Negara berkembang menyerang proposal pertanian AS-Uni Eropa pada pertemuan menteri di Cancun, Meksiko dan membentuk blok negosiasi G-20 yang dipimpin India dan Brasil.

Juli 2004 : Para negosiator menyepakati kerangka kerja untuk penyelesaian Putaran Doha, tetapi menunda keputusan tersulit.

1 Januari 2005 : Para anggota WTO gagal memenuhi target mereka.

Desember 2005 : WTO mengadakan pertemuan menteri kelima mereka di Hongkong. Mereka setuju untuk menghilangkan subsidi ekspor pertanian pada 2013, tetapi lagi-lagi gagal untuk menyepakati formula  pemotongan subsidi pertanian domestik dan tarif.

April 2006 : Para negosiator kembali gagal memenuhi tenggat manufaktur dan pertanian yang baru yang telah ditetapkan di Hongkong.

Juli 2006 : Dirjen WTO Pascal Lamy menunda negosiasi pascakegagalan G6 (AS, Uni Eropa, Brasil, India, Jepang dan Australia) memecah jalan buntu sektor pertanian.

Februari 2007 : Lamy umumkan negosiasi kembali dimulai.

Juni 2007 : Pembicaraan kembali gagal, kali ini India dan Brasil mengeluhkan prilaku AS dan Uni Eropa yang meminta akses ke pasar manufaktur yang terlalu banyak  sebagai ganti pemotongan tarif dan subsidi pertanian mereka.

Februari 2008 : Duta Besar Kanada untuk WTO Don Stephenson dan Duta Besar Selandia Baru untuk WTO Crawford Falconer mengeluarkan versi revisi teks negosiasi tentang barang-barang industri dan pertanian.

29 Juli 2008 : Pembicaraan WTO kembali gagal karena AS dan India tidak menemukan titik kompromi tentang ukuran yang dipakai untuk melindungi para petani di negara-negara miskin dari gelombang impor.

30 Nopember – 2 Desember 2009 : WTO kembali mengadakan pertemuan para menteri. Tujuannya tidak untuk negosiasi Doha, tetapi untuk mengambil jatah dalam badan kerja dan plot WTO ke depan.

Kenapa Isu Pertanian begitu Penting?

Selama ini banyak kalangan yang beranggapan bahwa WTO hanyalah sebagai alat pihak negara-negara maju terutama AS-Uni Eropa untuk mengendalikan perdagangan dunia. Komoditas pertanian seperti kedelai dan jagung harganya menjadi lebih murah dibandingkan produksi negara berkembang. Subsidi yang diterapkan Pemerintah AS-Uni Eropa membuat negara lain kalah bersaing dalam percaturan perdagangan dunia.

Bertahun-tahun kebijakan ini membuat para petani di negara dunia ketiga terjerat oleh produk pertanian impor dari negara-negara maju. Imbasnya, pertanian lokal menjadi tersendat padahal menjadi sektor ekonomi utama negara-negara berkembang.

Oleh: muhammadyusufansori | November 12, 2009

Kekuatan Konsumen untuk Melawan Dominasi Pasar Peternakan

Perdagangan komoditas peternakan saat ini cenderung dikuasai oleh kartel-kartel perdagangan yang mendominasi pasar nasional. Kartel-kartel tersebut membentuk suatu mekanisme perdagangan dengan menguasai komponen-komponen penting dalam dunia perdagangan komoditas peternakan. Asosiasi-asosiasi perdagangan yang biasa dibentuk tak lain adalah sebagai upaya untuk senantiasa mendominasi pasar. Komoditas daging ayam, daging sapi, telur hingga susu menjadi komoditas dengan harga yang senantiasa ‘dipermainkan’ pasar.

Ada kartel perdagangan yang menamakan dirinya gabungan koperasi, gabungan pengusaha atau gabungan industri. Apapun namanya, ketika dunia usaha dipenuhi oleh kartel-kartel dengan modal besar maka para pengusaha kecil sulit untuk menembus persaingan. Misalnya, harga daging ayam di pasaran saat ini yang terus melonjak ditentukan oleh kartel-kartel pengusaha ayam ras yang dikuasainya dari hulu hingga hilir. Penguasaan pasar dimulai dengan oligopoli bibit ayam atau yang biasa dipasarkan dalam bentuk DOC (Day Old Chick/Ayam Umur Sehari) hingga penguasaan pakan, obat-obatan dan sarana penunjang lainnya.

Ditengah sulitnya usaha ternak kecil menembus pasar, maka saya berpendapat bahwa persaingan bisa dilakukan jika kita memiliki strategi yang bertumpu pada kepercayaan konsumen pada produk kita. Selama ini konsumen kurang tahu asal-muasal produk yang mereka beli. Konsumen biasa membeli daging, telur dan susu di pasar tradisional atau pasar modern tanpa memperhatikan produsen produk tersebut.

Menurut pengalaman saya ketika berdagang susu, ternyata konsumen ingin tahu produk yang mereka beli berasal darimana. Konsumen punya hak untuk tahu maka dari itu kita beri tahu mereka tentang identitas produk tersebut. Kondisi ini bisa menambah kepercayaan konsumen akan produk yang kita jual. Buktinya, ada diantara sekian banyak konsumen yang memilih membeli produk dari peternak rakyat meskipun dengan kualitas lebih rendah jika dibandingkan dengan produk susu yang sekarang banyak beredar di pasaran.

Dengan begitu, saya percaya bahwa pengetahuan konsumen akan identitas produk dapat mempengaruhi keputusan mereka untuk membeli produk para pengusah kecil. Dengan catatan, kita harus jujur dengan produk yang kita miliki. Misalnya, harga murah yang kita tawarkan memang tidak dibarengi dengan kualitas dan citra yang baik yang biasanya ditutup-tutupi oleh pedagang. Ternyata, harga murah menjadi pertimbangan utama sebagian pembeli dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Ketika sebagian besar konsumen sudah memilih produk lokal dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka maka mekanisme pasar akan memihak pada para pengusaha lokal. Kartel-kartel besar pun akan mengurangi dominasi mereka ketika konsumen tidak berpihak pada mereka. Pada kenyataannya, konsumen lah yang mempengaruhi pasar bukan produsen yang menentukan kondisi pasar.

Saat ini, perekonomian cenderung berbasisis konsumsi dimana masyarakat ‘dipaksa’ untuk meningkatkan konsumsi hariannya. Seyogyanya, perdagangan dalam usaha peternakan pun mengandalkan perilaku konsumen untuk membeli produk yang kita miliki. Misalnya, jika susu yang selama ini beredar dipasaran adalah produk pabrik maka sebaiknya konsumen membelinya langsung dari peternak atau koperasi yang ada untuk memotong jalur distribusi susu yang terlalu rumit dan berbelit-belit.

Konsumen adalah pihak terakhir dalam jalur distribusi produk peternakan sehingga punya ‘kekuasaan’ yang dapat mengendalikan mekanisme pasar. Jika selama ini mekanisme pasar dikendalikan oleh pedagang maka sudah saatnya konsumen mempengaruhi fluktualitas harga di pasaran. Ada banyak produsen yang menganjurkan konsumen untuk membeli produk dalam negeri sebagai upaya menjadikan konsumen untuk melawan dominasi produk impor. Memang seperti itulah mekanisme pasar, produsen tidak bisa memaksa konsumen untuk membeli produknya meskipun dengan kualifikasi yang baik.

Beberapa hari yang lalu, di media massa dilaporkan kebangkrutan yang dialami oleh produsen otomotif Amerika seperti General Motor dan Ford. Mereka bersikeras mempertahankan kualitas produk dengan harga yang selangit sehingga ketika krisis global menerpa konsumen pun enggan membeli mobil mahal buatan Amerika. Justru Toyota-lah yang masih tetap bertahan dengan harga produknya yang terjangkau malahan mengganti posisi General Motor sebagai produsen otomotif terbesar di dunia. Setelah diperhatikan, ternyata asumsi konsumen tentang kendaraan sudah mulai berubah. Banyak konsumen yang membeli mobil dengan motif kebutuhan bukan sekedar prestise atau meningkatkan gengsi semata.

Asumsi ini juga berlaku pada produk peternakan. Jika produk susu bermerek yang selama ini dibeli konsumen terus mengalami kenaikan harga, maka jangan aneh ada sebagian konsumen yang beralih ke susu segar tanpa merek karena semata memenuhi kebutuhan gizi. Begitupun dengan daging dan telur, jika konsumen mengalihkan pembeliannya pada peternak sekitar rumahnya maka fluktuasi harga dikendalikan oleh konsumen.

Asumsi-asumsi inilah yang sering mendorong penulis untuk senantiasa beternak dan memenuhi kebutuhan gizi sendiri. Untuk kebutuhan daging ayam dan telur, maka kita memelihara ayam. Begitupun untuk kebutuhan daging sapi dan domba alangkah lebih baik membelinya dari para peternak sekitar kita. Kebiasaan memenuhi pangan sendiri ini sudah mulai luntur akibat perubahan asumsi dan gaya hidup yang ingin serba praktis. Akibatnya, masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pangannya.

Oleh: muhammadyusufansori | Oktober 26, 2009

Air, Hal yang Terlupakan dalam Pembangunan Desa

Sumber Pengairan Pertanian

Masyarakat pedesaan di Indonesia merupakan bentuk tatanan masyarakat yang menjadikan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi. Sebagai negara agraris, sebagian penduduk Indonesia  bertumpu pada pertanian yang menjadi sumber pendapatan. Pertanian tradisional yang masih dijalankan para petani Indonesia senantiasa menghadapi kendala sehingga mengalami kesulitan untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian yang digarapnya.

Salah satu kendala yang biasa dihadapi para petani di pedesaan adalah kesulitan mendapatkan sumber air ketika musim kemarau tiba. Banyak areal pertanian yang mengalami kekeringan. Kondisi ini menyebabkan kegagalan panen yang dialami para petani karena areal pertanian yang mereka miliki merupakan areal tadah hujan.

Masalah kekeringan ini biasa dialami oleh para petani di Desa Sukamerang, Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut. Keterbatasan sumber air menjadi problematika yang kerap dialami setiap kemarau tiba. Para petani tidak bisa mengairi areal sawahnya karena kondisi geografis yang tidak mendukung. Akibatnya, penduduk harus menunda masa tanam padi sampai hujan kembali turun.

Lahan-lahan pertanian yang seyogyanya ditanami malah menjadi lahan tidur dimana lahan tidak produktif dan dibiarkan begitu saja. Produktifitas petani yang berhenti turut berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Banyak orang yang menganggur karena tidak ada lahan yang bisa digarap. Pendapatan masyarakat pun otomatis menurun seiring terhentinya produktifitas pertanian.

Sumber Air Bersih

Kekeringan yang sering melanda desa Sukamerang juga turut mempengaruhi ketersediaan air bersih. Ketika kemarau tiba, banyak masyarakat yang kekurangan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. Air sebagai salah satu komponen kehidupan seakan menjadi barang mahal karena penduduk harus mendapatkannya dari tempat jauh. Sumur-sumur yang dimiliki penduduk pun cenderung kering karena air sudah tidak tersedia lagi di tanah. Bahkan, masjid sebagai sarana umum harus mendatangkan air dari tempat jauh untuk keperluan ibadah.

Ketersediaan air bersih ini dirasa penting karena berpengaruh pada kondisi kesehatan dan produktifitas masyarakat. Ketika masyarakat mudah mendapatkan air bersih maka diharapkan masyarakat bisa berkonsentrasi untuk melakukan aktifitas lain. Jika kemarau tiba, penduduk memiliki tambahan pekerjaan yakni menyediakan air bersih untuk keluarga.

Meningkatkan Potensi Ekonomi

Ketersediaan air di desa Sukamerang diharapkan dapat meningkatkan potensi ekonomi masyarakat. Potensi pertanian yang menjadi andalan pendapatan masyarakat dapat tergali karena salah satu penunjang utamanya yakni air sudah tersedia. Ketika pertanian sudah dapat berjalan maka diharapkan dapat merangsang potensi lain seperti peternakan.

Peternakan rakyat yang ada di desa Sukamerang terdiri dari domba, sapi, ayam dan kerbau. Ternak-ternak tersebut belum dikelola dengan optimal sehingga tidak bisa menjadi sumber pendapatan andalan masyarakat. Sumber pakan ternak yang tersedia belum mencukupi karena banyak lahan yang kering dan tidak termanfaatkan.

Akibat dari kondisi tersebut, banyak penduduk yang melakukan urbanisasi untuk mencari pendapatan. Dengan begitu, potensi ekonomi pedesaan pun belum tergali secara maksimal. Padahal, masih banyak potensi yang bisa dimanfaatkan masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sumber Air sebagai Komponen Utama

Memperhatikan kondisi diatas maka perlu adanya proyek yang berkonsentrasi pada penyediaan air sebagai komponen utama kehidupan masyarakat desa Sukamerang. Proyek tersebut berorientasi sosial sehingga tidak mengharapkan keuntungan finansial sebagai hasil ketika proyek tersebut sudah berjalan. Diharapkan ada pihak yang sanggup mendukung proyek tersebut baik secara moril maupun materil.

Proyek ini merupakan proyek jangka panjang dimana akan senantiasa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Semoga saja akan didapat manfaat yang sangat besar ketika proyek ini sudah berjalan.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori