Oleh: muhammadyusufansori | Oktober 26, 2009

Air, Hal yang Terlupakan dalam Pembangunan Desa

Sumber Pengairan Pertanian

Masyarakat pedesaan di Indonesia merupakan bentuk tatanan masyarakat yang menjadikan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi. Sebagai negara agraris, sebagian penduduk Indonesia  bertumpu pada pertanian yang menjadi sumber pendapatan. Pertanian tradisional yang masih dijalankan para petani Indonesia senantiasa menghadapi kendala sehingga mengalami kesulitan untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian yang digarapnya.

Salah satu kendala yang biasa dihadapi para petani di pedesaan adalah kesulitan mendapatkan sumber air ketika musim kemarau tiba. Banyak areal pertanian yang mengalami kekeringan. Kondisi ini menyebabkan kegagalan panen yang dialami para petani karena areal pertanian yang mereka miliki merupakan areal tadah hujan.

Masalah kekeringan ini biasa dialami oleh para petani di Desa Sukamerang, Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut. Keterbatasan sumber air menjadi problematika yang kerap dialami setiap kemarau tiba. Para petani tidak bisa mengairi areal sawahnya karena kondisi geografis yang tidak mendukung. Akibatnya, penduduk harus menunda masa tanam padi sampai hujan kembali turun.

Lahan-lahan pertanian yang seyogyanya ditanami malah menjadi lahan tidur dimana lahan tidak produktif dan dibiarkan begitu saja. Produktifitas petani yang berhenti turut berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Banyak orang yang menganggur karena tidak ada lahan yang bisa digarap. Pendapatan masyarakat pun otomatis menurun seiring terhentinya produktifitas pertanian.

Sumber Air Bersih

Kekeringan yang sering melanda desa Sukamerang juga turut mempengaruhi ketersediaan air bersih. Ketika kemarau tiba, banyak masyarakat yang kekurangan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. Air sebagai salah satu komponen kehidupan seakan menjadi barang mahal karena penduduk harus mendapatkannya dari tempat jauh. Sumur-sumur yang dimiliki penduduk pun cenderung kering karena air sudah tidak tersedia lagi di tanah. Bahkan, masjid sebagai sarana umum harus mendatangkan air dari tempat jauh untuk keperluan ibadah.

Ketersediaan air bersih ini dirasa penting karena berpengaruh pada kondisi kesehatan dan produktifitas masyarakat. Ketika masyarakat mudah mendapatkan air bersih maka diharapkan masyarakat bisa berkonsentrasi untuk melakukan aktifitas lain. Jika kemarau tiba, penduduk memiliki tambahan pekerjaan yakni menyediakan air bersih untuk keluarga.

Meningkatkan Potensi Ekonomi

Ketersediaan air di desa Sukamerang diharapkan dapat meningkatkan potensi ekonomi masyarakat. Potensi pertanian yang menjadi andalan pendapatan masyarakat dapat tergali karena salah satu penunjang utamanya yakni air sudah tersedia. Ketika pertanian sudah dapat berjalan maka diharapkan dapat merangsang potensi lain seperti peternakan.

Peternakan rakyat yang ada di desa Sukamerang terdiri dari domba, sapi, ayam dan kerbau. Ternak-ternak tersebut belum dikelola dengan optimal sehingga tidak bisa menjadi sumber pendapatan andalan masyarakat. Sumber pakan ternak yang tersedia belum mencukupi karena banyak lahan yang kering dan tidak termanfaatkan.

Akibat dari kondisi tersebut, banyak penduduk yang melakukan urbanisasi untuk mencari pendapatan. Dengan begitu, potensi ekonomi pedesaan pun belum tergali secara maksimal. Padahal, masih banyak potensi yang bisa dimanfaatkan masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sumber Air sebagai Komponen Utama

Memperhatikan kondisi diatas maka perlu adanya proyek yang berkonsentrasi pada penyediaan air sebagai komponen utama kehidupan masyarakat desa Sukamerang. Proyek tersebut berorientasi sosial sehingga tidak mengharapkan keuntungan finansial sebagai hasil ketika proyek tersebut sudah berjalan. Diharapkan ada pihak yang sanggup mendukung proyek tersebut baik secara moril maupun materil.

Proyek ini merupakan proyek jangka panjang dimana akan senantiasa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Semoga saja akan didapat manfaat yang sangat besar ketika proyek ini sudah berjalan.

Oleh: muhammadyusufansori | Oktober 22, 2009

Entog, Unggas Air yang Berpotensi

entog

Oleh: muhammadyusufansori | September 17, 2009

Mempertahankan Pelanggan Susu Segar

Persaingan dunia usaha menjadi kendala tersendiri untuk mengembangkan usaha, tidak terkecuali usaha peternakan. Persaingan tersebut bisa berupa ‘perebutan’ pelanggan dimana pelanggan menjadi ujung tombak usaha kita.
Ada banyak alasan kenapa pelanggan masih bertahan mengonsumsi produk kita. Keunggulan produk, kemudahan akses dan harga yang terjangkau menjadi bahan pertimbangann pembeli ketika dihadapkan pada produk yang sama. Bukanlah hal yang mudah untuk mempertahankan pelanggan agar tidak berpindah ‘ke lain hati’. Harus ada banyak inofasi yang dilakukan supaya usaha kita tetap bisa berjalan.
Susu segar sebagai salah satu produk peternakan rentan terhadap fluktuasi pembelian. Produk yang ditawarkan merupakan produk yang belum populer di masyarakat sehingga besar kemungkinan pelanggan akan kembali ke kebiasaan lamanya yakni mengonsumsi susu kemasan bermerek. Kepercayaan masyarakat pada khasiat susu segar belum begitu besar sehingga masih ada kemungkinan masyarakat memilih jalan lain untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
Untuk itu, ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mempertahankan pelanggan susu segar diantaranya:
1. Hitung kerugian jika kita kehilangan beberapa orang pelanggan. Dengan begitu, kita mengetahui biaya yang harus dikeluarkan untuk ‘merebut’ kembali hati pelanggan atau mencari pelanggan lain.
2. Catat kembali kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan pedagang. Perhatikan satu-persatu apakah ada kesalahan yang dilakukan sehingga ada pelanggan ‘kabur’. Bisa jadi, hilangnya pelanggan adalah kesalahan kita. Pelayanan yang kurang memuaskan, produk rusak atau kurangnya promosi bisa menjadi penyebab pelanggan melupakan atau meninggalkan produk kita.
3. Jika kita sudah tahu kesalahan kita, maka hal itulah yang harus diperbaiki. Tingkatkan promosi, perbanyak percakapan dengan pelanggan, jaga kebersihan, perbaiki penampilan dan tentu saja penuhi keinginan pelanggan merupakan langkah yang harus diambil.
4. Apabila hilangnya pelanggan akibat ulah dari pesaing kita maka cari tahu kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan yang mereka miliki boleh kita tiru dan kelemahannya mesti dijauhi. Menurut Arifin Panigoro, perlakukanlah pesaing sebagai mitra usaha. Bisa jadi, rezeki kita datang dari infomasi yang mereka miliki.

Oleh: muhammadyusufansori | Agustus 9, 2009

Waspadai Dampak El Nino terhadap Persediaan Beras Nasional

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Tribun Jabar edisi 31 Juli 2009

Krisis yang melanda negeri ini tidak kunjung berhenti. Setelah badai krisis keuangan melanda negeri ini, kini kita menyambut badai El Nino yang siap menerkam sektor pertanian. Di Indonesia bentuk El Nino adalah kekeringan, sedangkan di Filipina dan negara lainnya berupa taifun. Badai jenis itu juga dapat mempengaruhi debit persediaan air dan ketahanan pangan. Tapi, sebaliknya bagi orang Peru, El Nino berarti Tuhan atau Berkah pasalnya setiap angin ini datang, turun musim hujan yang menyuburkan pertanian mereka.

el-ninoFenomena alam ini telah memberikan dampak yang signifikan bagi persediaan beras nasional. Tiga tahun lalu, badai El Nino yang cukup parah di Indonesia telah mengakibatkan sekitar 50 ribu hektare lahan mengalami puso atau gagal panen (Media Indonesia, 22/7/2009). Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, dalam 10 tahun terkahir dampak terberat El Nino terjadi pada 1997-1998. Untuk 2009, Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian (Deptan) Sutarto Alimoeso mengatakan daerah-daerah rawan badai itu adalah daerah yang pengairannya tidak terjamin seperti Indramayu dan Cirebon. Dalam sepekan saja, sekitar 40 ribu hektare lahan persawahan di Jawa Barat mengalami puso dan gagal panen. Tanaman padi yang terkena kekeringan ataupun gagal panen rata-rata berumur 30-40 hari yakni sudah siap panen.

Fenomena  El Nino ini sangat berpengaruh pada persediaan beras nasional. Kegagalan panen yang dialami oleh para petani menjadikan cadangan beras di gudang menjadi menyusut. Padahal, seharusnya ada pertambahan cadangan beras nasional untuk bisa dimanfaatkan dimasa mendatang. Menurunnya stok beras nasional diharapkan tidak menjadi pemicu krisis pangan yang pernah terjadi pada era 2007/2008 lalu. Tentu saja, kelangkaan beras di pasaran bisa memicu naiknya harga beras di masyarakat. Ketika harga beras sudah mahal, maka ketahanan pangan yang diharapkan tidak akan tercapai.

Banyak kesulitan yang dialami Pemerintah _terutama Pemprop Jabar_ dalam menghadapi fenomena El Nino kali ini. Lahan pertanian di Jawa Barat yang semakin menyempit menjadi salah satu kendala meningkatkan produksi beras. Uniknya, lahan yang ada pun mengalami kekeringan (Pikiran Rakyat, 4/7/2009). Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar Entang Satraatmaja, bertambahnya areal sawah yang kekeringan karena tidak berfungsinya saluruan irigasi yang ada. Oleh karena itu, harus ada keseriusan Pemerintah  untuk memperbaiki irigasi yang ada (Media Indonesia, 23/7/2009).

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi kerawanan beras akibat fenomena iklim El Nino ini, Pemerinah harus meningkatkan cadangan berasnya sebanyak 500.000 ton. Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar menghimbau mengeluarkan anggaran untuk cadangan beras pemerintah (CBP) yang harus disetujui oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Menteri Keuangan. CBP adalah cadangan beras disediakan pemerintah untuk menghadapi kondisi bila sewaktu-waktu terjadi gejolak harga beras atau rawan beras di masyarakat. CBP sebanyak 1 ton idela untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari dampak El Nino. Tambahan CBP 500.000 ton tidak akan digunakan pada tahun 2009. Namun, tambahan itu harus segera disediakan karena diperkirakan hingga kuartal I-2010 pembelian beras akan sulit dilakukan akibat panen yang berkurang (Kompas, 24/7/2009).

Jika CBP tidak memenuhi kebutuhan, maka harus ada kebijakan impor sebesar 1 juta-1,5 juta ton sebagaimana yang disampaikan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Sosial Budaya Subur Budisantoso. Meskipun kebijakan impor ini menguras anggaran, namun langkah tersebut menjadi opsi penanggulangan kelangkaan beras. Hal yang harus diperhatikan adalah pola distribusi beras agar merata. Pola distribusi yang baik tidak membuat ketimpangan harga beras dan besaran cadangan beras di setiap daerah.

Fenomena El Nino ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua supaya senantiasa memperhatikana pertanian sebagai salah satu komponen pembangunan nasional. Ironi, negara Indonesia yang memiliki tanah yang luas dan subur masih mengalami kebingungan mengelola kebutuhan pangan. Harus ada kemauan keras dari kita untuk kembali menata pertanian kita yang selama ini terbengkalai.

Oleh: muhammadyusufansori | Juli 29, 2009

Khasiat Susu Kambing

Susu kambing sebagai produk murni alami mengandung nutrisi yang paling sempurna sebagai minuman yang bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan tubuh kita.

Berdasarkan uji klinis dan uji medis yang dilakukan dibanyak lembaga, termasuk lembaga kedokteran di berbagai  Negara. Susu kambing Peranakan Ettawa (PE) memberikan kahasiat ganda yaitu disamping sebagai minuman bernutrisi tinggi yang bermanfaat  untuk memelihara kesehatan juga dapat membanu mempercepat penyembuhan berbagai penyakit.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap di bawah ini terdapat Perbandingan kandungan  nutrisi susu per 100 Gram.

Kandungan Nutrisi Satuan Susu Kambing Susu Sapi ASI
Air Gram 83,00-87,5 87,20 88,30

6.90

Karbohidrat Gram 4,60 4,70 6.90
Energi Kcal 67,00 66,00 69.10
Protein Gram 3,30-4,9 3,30 1,00
Lemak Gram 4,00-7,3 3,70 4,40
Kalsium (Ca) mg 129,00 117,00 33,00
Phospor (P) mg 106,00 151,00 14,00
Zat Besi (Fe) mg 0,05 0,05 0,02
Vitamin A IU 185,00 138,00 240,00
Vit B1 mg 0,04 0,03 0,01
Vitamin B2

(Ribofalvin)

mg 0,14 0,17 0,04
Niasin (Niacin) mg 0,30 0,08 0,20
Vitamin B12 mg 0,07 0,36 0,04

Molekul lemak susu kambing jauh lebih kecil dan homogen dibandingkan dengan susu sapi, sehingga lemak susu kambing lebih mudah diserap dalam pencernaan manusia.

Susu kambing mengandung fluorin yang cukup tinggi yaitu 10-100 kali lebih banyak dibandingkan susu sapi. Unsur ini merupakan antiseptic alami yang mengandung elemen pencegah tumbuhnya bakteri didalam tubuh. Kehadiran fluorin dapat meningkatkan ketahanan tubuh, sehingga dapat mereduksi berkembangnya bakteri patogen.

KHASIAT SUSU KAMBING

1. Mengandung zat bergizi tinggi baik protein, lemak, hidrat arang dan mineral serta mengandung beberapa vitamin yang diperlukan tubuh sehingga baik untuk dikonsumsi oleh orang tua, dewasa, anak-anak bahkan balita. Untuk balita dapat digunakan sebagai pengganti ASI.

2. Menambah vitalitas (meningkatkan kemampuan seksualitas bagi pria dan wanita, mengatasi masalah impotensi) dan meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit.

3. Lebih mudah dicerna tubuh karena tekstur yang terdapat dalam protein dan lemaknya lebih halus daripada susu sapi. Sehingga dapat membantu menyembuhkan penyakit maag dan borok usus, serta untuk orang yang alergi susu sapi.

4. Membantu menyembuhkan penyakit kurang darah (anemia), diabetes, militus, gangguan pernafasan (asama, bronchitis, TBC), rheumatic dan asam urat.

5. Berdasarkan penelitian di Amerika mempunyai efek  anti kanker.

6. Komposisi kalsium dan phosphor yang paling seimbang disbanding susu lain, sehingga sangat baik untuk pertumbuhan tulang anak-anak dan mencegah keropos tulang bagi orang dewasa.

7. Sebagai bahan baku industri kosmetik (perawatan kulit dan tubuh).

8. Dalam perkembangan selanjutnya susu kambing dapat dipergunakan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman.

Mengkonsumsi susu kambing PE ini berdasarkan pengalaman sampai saat ini, diketahui tidak memberikan dampak negative bagi penderita gangguan hipertensi, dan penderita kolesterol tinggi. Susu kambing PE dapat dikonsumsikan tanpa menimbulkan interaksi negatif terhadap kesehatan.

Sebelum dikonsumsi direkomendasikan Susu Kambing PE ini diproses sbb.:

1. Dipanaskan/ditim/dikukus suhu 60-750C selama 10-15 menit selanjutnya dapat dikonsumsi.

2. Apabila susu kambing yang anda peroleh dalam bentuk beku (100% frozen) dengan kemasan plastik kualitas PE yaitu sejenis palstik yang tidak mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan., maka susu tersebu dimasukan bersamaan dalam panci yang berisi air dingin tanpa membuka kemasannya sampai cir, setelah itu dipanaska dengan suhu 60-700C (hangat kuku) selanjutnya dapat dikonsumsi.

3.  Penyajian susu kambing ini dapat dikombinasikan dengan penggunaan gula, kopi, coklat, jahe, madu, telur atau ekstrak buah-buahan.

4. Susu kambing diminum sehari 2 gelas pagi dan sore masing-masing 200 atau 250 ml.

5. Apabila susu kambing ini akan disimpan dalam jangka panjang, maka penyimpannya dilakukan dalam freezer dengan keadaan beku.

Susu kambing dapat diperoleh dalam  kemasan ukuran 200 ml di The Dairy Farm Milkshop, phone: 022 93272549

Oleh: muhammadyusufansori | Juni 24, 2009

Optimalisasi Potensi Desa

Pernah dimuat di Tribun Jabar edisi 24 Juni 2009

Bulan Juni dan Juli adalah bulan bertambahnya pengangguran di Indonesia. Pada bulan tersebut, banyak angkatan kerja lulusan SD, SMP, SMA atau Perguruan Tinggi yang mencari kerja sebagai konsekuensi hidup ketika lulus dari jenjang pendidikan yang ditekuninya. Kondisi ini tidak hanya ada di perkotaan dengan populasi pSuasana Desaenduduk yang banyak tetapi terjadi pula di pedesaan. Kondisi yang dilematis ketika usia angkatan kerja yang seharusnya produktif tidak dapat mengapresiasikan potensinya karena sempitnya lapangan kerja yang tersedia.

Krisis ekonomi berkepanjangan yang terjadi di negeri ini telah menyeret penduduk pedesaan untuk senantiasa melakukan urbanisasi ke perkotaan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Opsi ini sudah menjadi tradisi diberbagai daerah sehingga begitu banyak pemuda desa yang berambisi untuk ‘mengadu nasib’ ke perkotaan. Kondisi ini membuat pola penyebaran penduduk yang tidak baik dimana potensi sumbedaya manusia cenderung terkonsentrasi di perkotaan.

Mengapa Harus Urbanisasi?

Rendahnya potensi daerah adalah salah satu alasan tingginya angka urbanisasi. Banyaknya penduduk usia angkatan kerja yang meninggalkan daerahnya menjadikan daerah asal mereka seakan terabaikan. Tren ‘merantau’ sudah menjadi hal yang lumrah sehingga ‘harus’ dilakukan oleh pemuda angkatan kerja.

Rendahnya minat seseorang untuk menggali potensi daerahnya juga menjadi alasan lain untuk mencari penghidupan di perkotaan. Banyak penduduk pedesaan yang tidak mengetahui kebutuhan penduduk daerah lain dimana daerahnya bisa memenuhinya. Misalnya, kebutuhan penduduk perkotaan akan sayuran dimana hanya pedesaan yang mampu menyediakannya. Selain itu, banyak kebutuhan pangan yang harus dipenuhi penduduk perkotaan dimana penduduk pedesaan dapat memenuhinya.

Mencari Potensi Desa dengan Menggali Informasi

Informasi yang tepat tentang kebutuhan masyarakat luas adalah hal penting untuk dapat menggali potensi daerah. Informasi tersebut bisa berasal dari media massa atau sumber langsung yang memiliki kebutuhan.  Untuk itu, kita harus rajin menggali informasi dengan jalan bersosialisasi dengan berbagai  kalangan seperti Pemerintah, pengusaha, pemilik pasar tradisional atau pasar modern dan kalangan yang mempunyai kepentingan dengan daerah yang kita huni.

Informasi yang kita dapatkan adalah hal berharga yang harus kita jaga. Untuk menjaganya, kita sosialiasikan dengan orang disekitar kita maka diharapkan mendapatkan informasi tambahan yang memperkaya pengetahuan kita. Terpeliharanya informasi potensi daerah menjadi pemicu seseorang untuk menggali potensi daerahnya. Banyak cara untuk memelihara potensi daerah yang kita miliki, diantaranya dengan mengadakan forum desa dimana dipertemukan antara masyarakat, Pemerintah dan kalangan yang berkepentingan. Forum ini menjadi ajang pertukaran informasi antara berbagai pihak terutama untuk generasi muda. Misalnya, pengusaha dari perkotaan yang membutuhkan sayuran untuk dijual di supermarket bertukar informasi dengan masyarakat setempat sedangkan Pemerintah bertindak sebagai mediator.

Saat ini, sering terjadi kebingungan di kalangan anak muda di pedesaan tentang ‘apa yang harus dilakukan’ ketika mereka menyelesaikan pendidikannya. Dengan adanya forum desa ini, maka diharapkan ada pencerahan sehingga para pemuda tahu apa yang harus dilakukan. Kebingungan itu tergambar dari banyaknya pemuda desa yang memilih menganggur daripada harus menggarap tanah milik keluarganya. Mereka beranggapan bahwa hasil bumi tidak dapat menghasilkan ‘uang’ yang selama ini mereka butuhkan.

Alangkah lebih baik jika para investor menanamkan modalnya di pedesaan sehingga akan menyerap cukup banyak tenaga kerja. Lemahnya investasi di pedesaan bisa menjadi penyebab kurang seriusnya masyarakat desa mengoptimalkan potensi daerahnya. Mayoritas dari mereka cenderung menggarap lahan apa adanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Investasi di bidang pertanian diharapkan menjadi pemicu para petani untuk meningkatkan hasil buminya sehingga akan terasa manfaatnya. Hal ini menjadi cerminan bagi para pemuda untuk menekuni usaha dibidang pertanian karena mereka melihat prospek yang cerah.

Kesungguhan

Semua pihak harus memperlihatkan kesungguhannya dalam memberdayakan masyarakat desa. Kesungguhan ini dapat terwujud dari terbukanya akses infromasi yang diinginkan. Tanpa adanya upaya yang serius maka tidak menjadi pendongkrak kesetabilan ekonomi pedesaan yang selama ini menjadi tumpuan.

Oleh: muhammadyusufansori | Juni 11, 2009

Susu Lokal dan Dampak Perdagangan Bebas

Pemerintah melalui Menteri Perdagangan pada tanggal 28 Februari 2009 lalu bersama sejumlah menteri Perdagangan ASEAN, Australia dan New Zealand telah menandatangani Persetujuan Perdagangan Bebas ASEAN-Australia-Selandaia Baru, atau AANZ-FTA (Asean, Australia, New Zealand Free Trade Area), yakni perjanjian kerjasama untuk melakukan perdagangan bebas di antara negara-negara tersebut. Konsekuensi dari perjanjian tersebut adalah  turunnya tarif perdagangan produk peternakan seperti daging dan susu dari Australia dan New Zealand dinolkan pada 2017-2020.

Ternyata, kita tidak perlu menunggu lama untuk merasakan akibat dari perjanjian perdagangan bebas tersebut. Sekitar 40 ton susu di Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KSPBU) Lembang nyaris terbuang (Pikiran Rakyat, 2/4). Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari sisa susu yang tidak terjual akibat adanya pembatasan kuota susu oleh salah satu Industri Pengolahan Susu (IPS). Penulis memprediksi kondisi ini sejak lama seperti yang telah ditulis di kolom Opini (2/4) dimana disana disebutkan bahwa ada dampak psikologis yang sangat berbahaya jika perjanjian ini dijalankan. Pihak IPS cenderung akan memilih susu impor karena harganya lebih murah dan kualitasnya pun lebih baik.

Selain itu, pihak IPS pun kembali mengurangi harga beli susu lokal sebesar Rp.200-Rp.300/liter yang tadinya Rp. 3.500/liter. Negosiasi ulang ini semacam ‘ancaman’ bagi peternak karena selama ini sudah terbentuk sistem distribusi susu sapi yang kaku dimana IPS selalu menjadi oligopsoni. Pihak IPS sudah menjadi kartel yang terbentuk dengan sengaja sehingga kendali perdagangan senantiasa mereka pegang. Pihak peternak tidak mempunyai pilihan lain selain menurunkan harga jual susu ke IPS jika susunya ingin ditampung.

Pemerintah Berpihak pada Siapa?

Bila kondisinya sudah seperti ini sebenarnya siapa yang salah? Penulis benar-benar tidak mengerti, apakah Pemerintah menandatangangi perjanjian perdagangan bebas ini hanyalah sekedar ikut-ikutan atau atas tekanan para pengusaha dan pihak asing? Adanya perjanjian ini pasti sudah diketahui dampak buruknya bagi perekonomian nasional namun tidak menjadi sebuah prioritas dalam menentukan kebijakan.

Seharusnya, Pemerintah tidak mendantangani perjanjian tersebut jika tahu akan berdampak buruk bagi peternakan lokal. Kita semua tahu, kondisi peternakan lokal sedang terpuruk namun bukan berarti memberikan ruang kepada pengusha untuk mengeksploitasi mereka. Seakan, kekuasaan ada ditangan Pengusaha bukan berada di tangan Pemerintah sebagai penentu kebijakan. Proteksi Pemerintah terhadap peternak lokal tetap harus dilakukan supaya IPS tidak semena-mena menurunkan harga beli susu dan mencampakan peternak lokal begitu saja.

Apabila kondisinya sudah seperti ini, maka  Pemerintah kebingungan mencari solusi terbaik. Pemerintah berada dalam kondisi dilematis antara dua pihak yang harus dilindungi yakni peternakan lokal atau kepentingan pengusaha. Maka dari itu, Pempov Jabar mempunyai program ‘bagi-bagi susu’ kepada anak SD untuk mengurangi dampak kerugian atas ‘sistem perdagangan yang bobrok’ ini. Namun, ini bukanlah solusi yang aktif karena inti permasalahannya bukan pada habis atau tidaknya susu di Peternak tetapi keberlangsungan usaha peternakan rakyat itu sendiri yang terancam ‘punah’. Lagipula, mampukah pemprov membeli sekian ton susu yang ada padahal kondisi keuangan negara sedang mengalami krisis?

Selain itu, Pemerintah pun mulai mempertimbangakn untuk menggunakan stimulus fiskal untuk menutup penurunan harga pembelian susu dari peternak oleh IPS. Lagi, opini ini tidak melihat akar masalah yang  ada dan terpaku pada ‘cara berpikir pragmatis’. Ya, Pemerintah harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk melindungi pengusaha _agar usahanya tetap untung_ yang seakan membantu kesulitan peternak_yang susunya tidak dapat terjual_. Dalam hal ini, Pemerintah hanya menghambur-hamburkan uang padahal masih banyak infrastruktur peternakan yang lebih penting untuk dibangun seperti pengairan, padang rumput dan teknologi pemerahan.

Beginilah salah satu bentuk penjajahan model baru yang sedang kita alami. Untuk itu, sudah saatnya kita menyadari bahwa  banyak konsekuensi logis ketika roda perekonomian yang ada tidak berpihak pada rakyat. Pemerintah senantiasa membentuk ‘solusi pura-pura’ yang seakan melindungi peternak padahal itu adalah alternatif yang seharunya tidak dipilih. Jika Pemerintah masih punya alternatif utama _yang aman_, kenapa masih memilih alternatif lain?

Oleh: muhammadyusufansori | Mei 1, 2009

Mengikuti Perilaku Konsumen dalam Memenuhi Kebutuhan Pangan

Di tengah persaingan pasar seperti saat ini, para produsen kebutuhan pangan perlu memperhatikan prilaku konsumennya sebagai pembelajaran untuk senantiasa melakukan inovasi. Inovasi harus dilakukan untuk mengimbangi hegemoni pedagang besar dan retail-retail yang sedang menjamur di berbagai penjuru negeri. Dengan menjamurnya retail-reatail skala besar_bahkan transnasional_, maka sudah dapat dipastikan para pedagang tradisional kehilangan pelanggannya. Berbagai kemudahan dan daya tarik dari retail-retail tersebut menjadi salah satu alasan konsumen beralih dari pasar tradisional ke pasar modern.

Apabila kita perhatikan, konsumen dalam negeri cenderung mengikuti ‘trend’ dalam berbelanja dibandingkan sekedar memenuhi kebutuhannya. Sering kita melihat seseorang yang sekedar membeli beras, telur atau bahan pokok lainnya di supermarket padahal dia bisa membelinya di pasar tradisional. Iklan yang begitu kuat menjadi penyebab ketertarikan masyarakat untuk berbelanja di supermarket. Trend berbelanja ini lambat laun akan mengubah perilaku konsumen secara keseluruhan sehingga mereka meninggalkan pasar tradisional. Dengan begitu, pasar tradisional pun mengalami penurunan pendapatan bahkan terancam punah.

Ikuti Keinginan Konsumen

Di tengah trend masyarakat yang sedang berubah itu, maka kita sebagai pedagang kecil tidak salah jika mengikuti ‘keinginan mereka’. apalagi, jika barang yang kita jual ke konsumen adalah bahan pangan yang tidak mungkin ditinggalkan maka kita perlu melakukan inovasi. Para pedagang kecil harus memiliki keyakinan bahwa produknya masih bisa dijual karena masyarakat masih membutuhkan bahan pangan sebagai pemenuh kebutuhan primer.

Konsumen menginginkan tempat yang nyaman ketika berbelanja maka tidak salah jika pedagang pun memberikan kondsisi yang nyaman bagi para pembelinya. Saat ini, pasar tradisional yang terkesan kumuh menjadi penghambat utama masyarakat untuk berbelanja di sana. Perilaku masyarakat Indonesia yang tidak bersih memang sulit dihilangkan dari kehidupannya. Kesadaran akan kebersihan harus kita bangun sedari sekarang dengan memulainya dari hal-hal kecil. Tidak ada salahnya bila di depan kios kita disediakan tempat sampah sehingga sampah tidak berceceran dimana-mana.

Promosi produk merupakan hal yang jarang dilakukan oleh para pedagang tradisional sehingga begitu wajar jika persaingan dengan retail sulit untuk dibendung. Promosi yang dilakukan oleh pasar modern menjadi ciri khas yang tidak mungkin ditinggalkan. Keinginan orang untuk berbelanja ke supermarket tidak akan muncul begitu saja tanpa danya input pengetahuan dari luar tentang suatu produk yang dijual. Memang, terkesan biaya promosi itu mahal sehingga banyak pedagang yang enggan melakukannya. Padahal, banyak model promosi sederhana yang bisa dilakukan dengan biaya yang relatif murah. Kita tidak perlu memasang iklan di media massa tetapi cukup dengan membuat selebaran (pamflet, leaflet) dan disebarkan ke teman terdekat, keluarga atau bahkan lingkungan sekitar tempat tinggal kita.

Ketika kita memasarkan produk kita, alangkah lebih baik jika kita memiliki ciri khas. Misalnya, telur yang kita jual akan menadapatkan bonus satu butir telur jika pembeli membeli satu kilogram. Menurut perhitungan, kita tidak akan mengalami kerugian dengan adanya bonus semacam itu, justru hal tersebut mendongkrak daya jual produk kita. Pernahkan kita memperhatikan, masyarakat tertarik berbelanja ke supermarket hanya sekedar tertarik bonusnya saja padahal nilai mominalnya tidak seberapa.

Pasar tradisional yang terkesan becek_sehingga disebut pasar becek_ adalah halangan terberat untuk menarik konsumen berbelanja ke sana. Kondisinya yang semakin memprihatinkan tidak terlepas dengan prilaku kita juga sebagai pedagang. Pedagang tradisonal yang tidak disiplin semakin adalah kendala utama dalam memperbaiki citra pasar tradisional. Kita tidak bisa terus ‘mengemis’ kepada Pemerintah agar ada upaya perbaikan. Justru, pasar tradisional yang sederhana menjadi daya tarik konsumen asalkan lingkungannya nyaman, aman dan tertib.

Dalam memenuhi kebutuhan pangan, konsumen masih banyak yang lari ke pasar tradisional karena retail tidak dapat memenuhinya. Kelebihan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena ini menjadi modal dimana hanya pasar tradisional yang masih memilikinya. Namun, peluang itu tidak akan termanfaatkan dengan baik jika para pedagang tidak dapat menangkapnya.

Ada banyak konsep yang disampaikan oleh berbagai kalangan untuk mendongkrak produksi pertanian dalam negeri. Namun, ternyata Rosululloh memiliki konsep untuk mengatasi krisis pangan yang terjadi jauh-jauh hari sebelum Thomas Robert Maltus mengeluarkan teorinya. Beliau memberikan perintah kepada masyarakat untuk senantiasa mengelola tanah yang dimilikinya sehingga setiap jengkal tanah yang ada akan termanfaatkan. Bahkan beliau memberikan ‘reward’ kepada seseorang sebidang tanah mati bagi penggarapnya.

Barangsiapa menghidupkan lahan mati maka lahan itu untuk dia. (HR. Abu Dawud dan Aththusi)

Saat ini, begitu luasnya lahan mati _tidak termanfaatkan_ oleh manusia sehingga banyak juga petani yang enggan untuk mengelola lahan miliknya. Saya pikir, persoalan sederhana seperti ini yang menjadi penyebab semakin menurunnya produksi pertanian nasional. Memperhatikan kondisi ini, Pemerintah berusaha untuk melakukan ekstensifikasi lahan pertanian dengan terus menambah lahan pertanian. Namun, muncul masalah baru yakni begitu banyak pula lahan yang dialihfungsikan menjadi lahan industri dan pemukiman.

Dalam Politik Ekonomi Islam, masyarakat ‘dipaksa’ untuk melakukan kegiatan pertanian seperti menaman tanaman pangan, beternak atau membuat tambak-tambak ikan. Sikap tegas Pemerintah ketika menuntun masyarakat dalam bertani menjadi jalan untuk mendorong meningkatnya produksi pertanian. Ternyata, selain masalah lahan dan teknologi, kondisi sosial budaya menjadi faktor penting dalam menentukan arah politik pertanian. Masyarakat saat ini cenderung tertarik bekerja di sektor industri dan jasa dibandingkan sektor pertanian. Begitu banyak pemuda desa yang berurbanisasi ke perkotaan dan enggan untuk bertani seperti orangtuanya.

Di era globalisasi saat ini, masyarakat diajak untuk melirik sektor industri dan jasa serta melupakan sektor pertanian. Pembentukan pola pikir menjadi hal penting untuk merubah orientasi kerja masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika sektor industri mulai melemah maka sektor jasa menjadi alternatif untuk mencari kerja. Sektor jasa komunikasi dan keuangan menjadi primadona para pencari kerja karena ternyata sektor ini mampu bertahan di era krisis ekonomi yang sedang terjadi.

Pola penyebaran penduduk yang tidak teratur bisa diatasi dengan ‘pemaksaan’ Pemerintah kepada masyarakat dalam mengelola tanah miliknya. ‘Pemaksaan’ yang dimaksud bukanlah bentuk pemaksaan fisik dan intimidasi tetapi berupa dorongan sosial untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka tidak harus pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Pemerintah harus bisa menjelaskan hikmah-hikmah dibalik ‘pemaksaan’ ini.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat akan merasakan dengan nyata bahwa sektor pertanian dapat menjadi alternatif ketika kondisi ekonomi sedang mengalami kesulitan. Kita tidak bisa terus menyalahkan Pemerintah karena tidak bisa menyediakan beras murah padahal kita sendiri yang tidak mau mengelola lahan-lahan kosong yang terlantar begitu saja. Bahkan parahnya lagi, banyak pemilik lahan yang menyewakan lahannya pada orang lain untuk sekedar dijadikan kawasan wisata.

Dalam pandangan Islam, tanah bukanlah investasi untuk dimiliki dan ditelantarkan begitu saja. Tanah adalah aset berharga yang harus dikelola dan sentiasa termanfaatkan sehingga roda ekonomi akan terasa walaupun sedikit. Masyarakat pun senantiasa terdorong untuk beraktifitas di lahan mereka dan enggan memberikannya kepada orang lain karena bila sebidang lahan tidak dikelola dalam waktu tiga tahun maka tanah tersebut akan diberikan kepada orang yang siap mengelolanya.

Yahya bin Adam meriwayatkan melalui sanad Amru bin Syu’aib mengatakan:

“Rosululloh saw. telah memberikan sebidang tanah kepada beberapa orang dari Muzainah atau Juhainah, kemudian mereka menelantarkannya, lalu ada suatu kaum menghidupkannya. Umar berkata: ‘Kalu seandainya tanah tersebut pemberian dariku, atau dari Abu Bakar, tentu aku mengembalikannya, akan tetapi (tanah tersebut) dari Rosululloh saw.’ Dia (Amru bin Syuaib) berkata; “Umar mengatakan:’Siapa saja yang mengabaikan tanah selama tiga tahun, tidak dia kelola, lalu ada orang lain mengelolanya, maka tanah tersebut menjadi miliknya.”

(Politk Ekonomi Islam, Abdurrahman Al-Maliki)

Memang, ambruknya sektor pertanian di negeri ini karena ada banyak faktor kebijakan yang keliru. Namun, hal itu tidak menjadi satu-satunya faktor menurunnya produksi pertanian dalam negeri. Faktor terpenting adalah melemahnya hasrat masyarakat dalam mengelola lahan pertanian. Ada banyak kemungkinan penyebab hal ini, diantaranya:

Pertama, pola pikir masyarakat digiring untuk melupakan sektor pertanian sejak usia dini. Sebaliknya, pendidikan di negeri ini lebih mengenalkan sektor industri sehingga Sekolah Kejuruan menjamur dimana-mana.

Kedua, masyarakat tidak mampu mengenal potensi pasar produk pertanian dan terjebak dengan sikap bertani ‘alakadarnya’. Sikap ini berpengaruh pada generasi berikutnya dimana mereka tidak bisa melihat dengan nyata peluang usaha pertanian.

Ketiga, masyarakat belum bisa membedakan dengan nyata pola hidup usaha pertanian _notabene di desa_ dengan kehidupan perkotaan. Jika, masyarakat bisa merasakan pola hidup hemat dan bersahaja ala petani maka banyak penduduk yang kembali ke desa dan menghidupkan lahannya yang sudah lama terlantar.

Dari sekian banyak kemungkinan, namun yang pasti faktor sumber daya manusia adalah faktor utama menurunnya produk pertanian kita. Alam negeri ini yang begitu melimpah tidak akan pernah berharga bila kita tidak berusaha untuk mengelolanya. Untuk itu, sudah seharusnya generasi negeri ini diperkenalkan dengan kondisi alamnya sendiri. Mereka jangan diberi harapan semu tentang ‘pertumbuhan industri’ atau ‘kekuatan ekonomi kerakyatan’ jika mereka tidak mau diajak ke ladang untuk sekedar mencangkul dan bercocok tanam. Ajak anak-anak kita ke sawah dan libatkan mereka dengan dunia petani maka mereka akan merasakan indahnya bersatu dengan alam.

Generasi yang dibutuhkan negeri ini adalah generasi yang punya pandangan ke depan dan tidak banyak mengeluarkan ‘teori-teori kosong’. Tembok-tembok ‘pemikiran barat’ hanya akan menjadi penghalang bagi kemajuan mereka. Mereka terlalu jauh melihat indahnya negeri orang padahal negerinya sendiri begitu indah. Kalau tidak indah, kenapa negeri ini selalu menjadi rebutan?

Oleh: muhammadyusufansori | April 5, 2009

Pembatasan Impor Demi Peternak Lokal

Tulisan ini pernah dimuat di Pikiran Rakyat edisi 4 April 2009

susuKetika membaca headline PR edisi kamis (2/4/2009) yang berjudul Peternakan Terpukul penulis sudah memprediksinya sejak awal. Pekiraan ini muncul ketika membaca PR edisi sabtu (21/3/2009) dimana beberapa pakar menanggapi kebijakan perpanjangan impor dari Australia dan New Zealand. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa kebijakan perpanjangan impor produk peternakan ini harus diikuti dengan pemberian subsidi kepada peternak terutama sektor budidaya yang banyak mengalami kendala. Bahkan ada yang berpendapat bahwa pemerintah provinsi harus menyediakan dana untuk membeli susu dari peternakan rakyat dan diberikan kepada anak sekolah untuk memperbaiki gizi mereka.

Adanya tuntutan subsidi dan pembelian susu dari peternak bukanlah solusi yang aktif ketika menghadapi membanjirnya produk peternakan impor terutama susu dan daging sapi. Pendapat ini seakan meng-iyakan keputusan Menteri Perdagangan untuk membuka kran impor selebar-lebarnya tanpa memperhatikan kondisi peternakan lokal yang semakin terseok-seok.

Subsidi peternakan diberikan untuk menggenjot produksi supaya dapat memenuhi kebutuhan pangan sumber protein nasional. Subsidi dapat diberikan berupa bantuan finansial atau subsidi pakan supaya lebih murah dibandingkan harga sesungguhnya. Dengan begitu, peternak pun dapat berupaya meningkatkan produksinya karena sarana produksi murah dan memadai. Namun, pemberian subsidi tidak akan bisa menyaingi membanjirnya produk impor karena kran impor yang tidak dibatasi dengan proporsional. Kalaupun peternak dapat meningkatkan produksinya dan terbentuk harga yang murah maka konsumen akan cenderung memilih produk impor karena kualitasnya lebih terjaga dengan harga yang sama murahnya.

Saat ini, penulis merasakan kenaikan harga susu lokal yang biasa dijual dari koperasi ke Industri Pengolahan Susu (IPS). Kenaikan harga pakan menjadi penyebab utama terus merangkaknya harga susu lokal. Keadaan ini mendorong IPS untuk beralih ke susu impor dengan meningkatkan kuantitas pemakaian susu impor dibandingkan susu lokal. Apalagi selama ini susu impor menjadi bahan mayoritas yang dipakai IPS. Ingat, laju ekspor-impor lebih cepat dibandingkan proses produksi susu yang jauh lebih lambat, artinya kalaupun ini dilaksanakan tidak akan efektif untuk menandingi laju produk impor yang jauh lebih cepat. Ketika susu impor sudah dibeli konsumen maka Pemerintah masih sibuk membagikan subsidi ke peternak!

Begitupun, opini untuk membeli susu dari peternak rakyat oleh Pemprov Jabar merupakan hal yang rancu. Opini ini seakan mengalihkan isu utama yakni adanya pembukaan kran impor yang terlampau besar. Kita semua maklum, di tengah krisis yang terjadi dana yang ada sebaiknya dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur yang lebih penting seperti jalan raya, perairan dan lahan pertanian. Jika opini ini direalisasikan justru banyak hal yang menjadi kendala seperti infrastruktur yang belum tersedia. Akan butuh banyak waktu untuk menyediakan semua itu sedangkan produk impor sudah lebih dulu sampai ke anak sekolah sebagai konsumen! Selain itu, apakah bisa semua anak SD se-Jawa Barat diberi susu gratis?

Sebagai konsumen dan pedagang susu, saya melihat bahwa harus ada pembenahan kebijakan perdagangan produk peternakan. Saya mengerti bahwa penurunan bea masuk adalah konsekuensi ketika produk nasional ingin masuk ke Australia dan New Zeland. Namun, jangan sampai setiap perjanjian perdagangan yang telah ditanda tangani sarat dengan kepentingan pihak swasta yang ingin produknya laku di pasaran. Coba kita pilih, apakah produk kita terjual ke luar negeri tetapi peternak lokal menjerit-jerit atau produk kita tidak terjual ke luar-negeri tetapi ekonomi rakyat membaik karena mengandalkan produk nasional? Bagaimana kita bisa ‘mencintai produk nasional’ jika produk impor lebih banyak beredar di pasaran dan mudah didapatkan.

Nasi sudah menjadi bubur, perjanjian telah ditanda tangani, ada baiknya jika jalur distribusi yang selama ini ada diubah. Susu dari peternak biasanya dijual ke koperasi dan diangkut ke IPS hingga sampai ke konsumen akhir. Supaya distribusinya lebih cepat, maka sebaiknya susu yang dikumpulkan ke koperasi dijual langsung ke konsumen. Biarlah koperasi bersaing dengan IPS dalam memasarkan produknya. Susu dapat dijual dalam bentuk susu segar atau pasteurisasi dengan kemasan sederhana sehingga harganya murah. Sesuai pengalaman penulis, konsumen cenderung menyukai susu segar atau ‘susu murni’ karena ada anggapan belum dicampur apapun. Dengan promosi yang intensif, maka proses produksi bisa dilakukan tanpa perlu teknologi yang mahal.

Jatinangor, 2 April 2009

Muhammad Yusuf Ansori  (Pedagang Susu dan Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Tinggal di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Phone: 081910268007; (022) 93272549)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori